DENPASAR – Memasuki bulan Juli 2023 wilayah Bali mengalami hujan dalam intensitas sedang. Hujan deras yang terjadi di sejumlah tempat memicu terjadinya pohon tumbang. Selain pogin tumbang, terjadi pula tanah longsor, air sungai meluap hingga mengakibatkan rusaknya infrastruktur.
Kepala BBMKG Wilayah III Denpasar, Cahyo Nugroho, mengatakan, puncak musim kemarau tahun 2023 di wilayah Bali pada umumnya di bulan Juli dan Agustus. Namun, bukan berarti kemarau tidak ada hujan sama sekali. “Sama halnya dengan musim hujan, tidak berarti tidak ada cerah sama sekali. Hujan yang terjadi selama tiga hari belakangan ini dipicu faktor gangguan cuaca skala regional di sekitar wilayah Bali,” katanya, Minggu (2/7/2023).
Ia menjelaskan, beberapa fenomena gangguan cuaca skala regional di sekitar wilayah Bali telah memicu terjadinya hujan tersebut. Kondisi itu diperkirakan berlangsung selama sepekan ke depan. Di sisi lain, BBMKG mengimbau masyarakat agar waspada potensi gelombang tinggi di perairan Selatan Bali, khusus di Samudra Hindia Selatan, yang mencapai 4-5 meter.
Berdasarkan analisis prakirawan Balai BMKG Wilayah III Denpasar. Hujan di musim kemarau dipicu adanya pola pertemuan angin (konfluensi) di Samudra Hindia di sebelah Selatan Bali-Nusa Tenggara Timur. Hal tersebut mendukung pembentukan awan hujan yang memicu turunnya potensi hujan di wilayah Bali selatan. Potensi hujan itu kemudian meluas ke Bali tengah, Bali timur, dan Bali barat.
Peluang hujan masih berpotensi terjadi selama beberapa hari ke depan di wilayah Bali bagian barat, tengah, selatan, dan timur. Pada tanggal 3-7 Juli, kondisi secara umum berawan dan masih berpotensi hujan ringan hingga sedang.
Cahyo Nugroho juga mengimbau masyarakat selalu waspada dan berhati-hati dengan potensi bencana hidrometeorologi. Masyarakat dapat memperbaharui informasi BMKG, khususnya peringatan dini. “Sehingga, dapat mengurangi resiko bencana yang mungkin terjadi,” pungkasnya. (dbc)















