BADUNG – Menutup rangkaian acara Pertemuan Tingkat Menteri Pendidikan G20, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melibatkan masyarakat dalam menunjukkan gotong royong dan kekayaan budaya, kepada para delegasi negara G20 pada hari Kamis, 1 September 2022.
Bertempat di Museum Pasifika, Nusa Dua, Kabupaten Badung, para delegasi G20 mendapatkan kesempatan untuk menikmati karya seni dari Indonesia dan berbagai penjuru dunia. Rangkaian acara dimulai dengan tur Museum Pasifika yang memamerkan lebih dari 600 karya seni. Secara khusus dipamerkan juga karya seni dari negara G20.
Sebagai wujud keterlibatan masyarakat dalam perhelatan G20, Kemendikbudristek mengajak Sanggar Pancer Langit yang juga mitra Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) untuk tampil. “Kita ketahui banyak sanggar yang mati suri selama pandemi. Karena itu, kesempatan bagi anak-anak kita untuk kembali lagi dan unjuk hasil kecintaan mereka dalam mempelajari sesuatu, dalam hal ini kesenian, patut selalu kita dukung,” ujar Iwan Syahril selaku Ketua Kelompok Kerja Pendidikan G20 (G20 Education Working Group/EdWG).

Sanggar Pancer Langit yang berisikan peserta didik dari usia PAUD sampai pendidikan tinggi menampilkan sendratari yang bercerita tentang tradisi masyarakat Kapal, Kabupaten Badung dalam bergotong royong menghadapi wabah. Pagelaran ditutup dengan partisipasi para ketua delegasi negara-negara G20 dalam tradisi lempar tipat bantal, sebuah tradisi turun-temurun sebagai bentuk rasa syukur kepada alam semesta.
Mengutip pernyataan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim, Iwan Syahril, menyatakan bahwa Presidensi G20 merupakan momentum berharga untuk meningkatkan posisi Indonesia di kancah dunia, terutama karena terobosan Merdeka Belajar menjadi dasar penentuan empat agenda prioritas G20 bidang pendidikan.
“Mas Menteri Nadiem berpesan kepada delegasi bahwa hanya dengan melangkah maju untuk memulihkan dan mentransformasikan dunia pendidikan, kita semua dapat berhasil dalam menghadapi kesulitan kita saat ini dan tantangan masa depan,” ujar Iwan yang juga Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan dan Plt. Dirjen PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kemendikbudristek.
Terkait meningkatkan posisi Indonesia, Iwan juga menyampaikan, “Semangat gotong royong yang merupakan upaya saling bantu demi mencapai tujuan bersama akan dimasukkan ke dalam laporan EdWG G20 sebagai kerangka kerja pemulihan pendidikan dan nantinya akan dibawa ke KTT Transformasi Pendidikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).”
“Gotong royong telah diakui oleh para delegasi mampu menjawab tantangan dalam pemulihan pada sektor pendidikan. Diharapkan, semangat ini akan dapat terus dihidupkan dalam penyelenggaraan forum G20 pada masa-masa mendatang,” kata Iwan. (dbc)















