Home / Unik Bali

Minggu, 2 Februari 2025 - 10:02 WIB

Bulan Bahasa Bali Tahun 2025 Dibuka dengan Fragmentari Sewaka Kurma Raja

Pj. Gubernur Bali bersama para penari dan penabuh usai pementasan Fragmentari “Sewaka Kurma Raja” dalam acara pembukaan Bulan Bahasa Bali VII Tahun 2025.

Pj. Gubernur Bali bersama para penari dan penabuh usai pementasan Fragmentari “Sewaka Kurma Raja” dalam acara pembukaan Bulan Bahasa Bali VII Tahun 2025.

DENPASAR – Bulan Bahasa Bali (BBB) VII Tahun 2025 resmi dibuka pada Sabtu, 1 Febaruari 2025 oleh Pj. Gubernur Bali, Sang Made Mahendra Jaya bertempat di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Denpasar.

Pembukaan BBB VII dimeriahkan dengan pementasan Fragmentari berjudul “Sewaka Kurma Raja”. Pementasan ini dibawakan oleh Sanggar Seni Kokar Bali melibatkan para siswa dan guru-guru dari jurusan tari, karawitan, dan pedalangan.

Fragmentari “Sewaka Kurma Raja” mengisahkan tentang runtuhnya Watugunung. Fragmentari ini dimulai dari Dewi Sintakasih dan Dewi Landep meminta kepada Watugunung untuk menikahi istri Bhatara Wisnu yang bernama Dewi Nawangratih. Watugunung mengutus Sang Warigadean untuk melamar Dewi Nawangratih.

Mendengar hal itu, Bhatara Wisnu marah dan perang pun tak terelakan lagi. Namun, Watugunung sangat kuat dan sulit untuk dikalahkan. Saat situasi krisis, datanglah Bhagawan Wrhaspati dan mengutus Bhagawan Lumanglang datang ke bumi menjadi laba-laba untuk mengintai kelemahan dari Watugunung.

Setelah kelemahan Sang Watugunung diketahui, Bhatara Wisnu kemudian menjelma menjadi Kurma Raja memerangi Watugunung. Akhirnya, Watugunung dapat dikalahkan dan jasadnya jatuh ke Bumi. Hal itu disebut dengan Watugunung Runtuh.

Fragmentari ini sarat makna sebagai penanda perenungan situasi jagat yang terjadi saat ini. Menurut Kurator BBB VII, Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum, menjelaskan secara konsep maupun pesan yang disampaikan dalam fragmentari sarat dengan ketidakkaruan situasi atau musim saat ini. Kisah Watugunung ini akan berkaitan dengan hari suci Saraswati, sebagai simbol ilmu pengetahuan.

Baca Juga :  Sosialisasi Permainan Tradisional Asli Buleleng, “Magoak-goakan” dan “Majaran-jaranan”

“Nantinya ilmu yang diturunkan merupakan support kreativitas anak muda agar mampu menciptakan atau menghasilkan karya, dengan catatan orang harus menjauhkan dari sikap diri yang egois, jauhkan dari Prabu Watugunung. Prabu itu kepala, Watu itu keras, simbol keras kepala. Ini makna cerita Prabu Watugunung,” ujar Guru Besar Unud itu.

Selain dimeriahkan pertunjukan Fragmentari “Sewaka Kurma Raja”, acara pembukaan BBB VII juga menyajikan kegiatan khas yakni nyurat aksara Bali dan mengetik aksara Bali dengan keyboard. Sebanyak 500 siswa mulai dari SMP, SMA/SMK hingga perguruan tinggi kembali ambil bagian dalam Utsawa (Festival ) Nyurat dan Ngetik Aksara Bali, bertempat di lantai bawah Gedung Ksirarnawa.

Baca Juga :  Tutup KTT G20 Bali, Presiden Jokowi Bersyukur Deklarasi G20 Bali Diadopsi dan Disahkan

Pj Gubernur Bali dalam sambutannya menjelaskan, BBB yang berlangsung sebulan penuh, merupakan bentuk komitmen Pemerintah Provinsi Bali dalam menjaga dan memajukan bahasa, aksara, dan sastra Bali. BBB merupakan wujud implementasi Perda Provinsi Bali Nomor 1 Tahun 2018 tentang Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali, dan Pergub Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan BBB.

Mahendra Jaya mengatakan, nilai-nilai luhur orang Bali termuat dalam lontar-lontar yang menggunakan bahasa Bali. Dengan nilai-nilai itu, dia menyebut, bahasa Bali telah menjadi inspirasi masyarakat dunia.“Selain digunakan sebagai alat komunikasi, bahasa Bali sarat nilai-nilai universal,” ujarnya.

Pj Gubernur mengajak masyarakat Bali ikut melestarikan penggunaan bahasa Bali sebagai warisan leluhur orang Bali. Ia menyebut, penggunaan bahasa Bali dimulai dari lingkup keluarga, sekolah, tempat kerja, dan wajib pada acara-acara adat di Bali.

“Bulan Bahasa Bali menjadi wahana membumikan bahasa Bali sehingga hidup dalam jiwa setiap orang Bali.Mari lestarikan bahasa, aksara, dan sastra Bali untuk menggapai dunia,” pungkasnya. (dbc)

Share :

Baca Juga

Komunitas

Pertama Kali Digelar, Lomba Sketsa Ogoh-ogoh di Jembrana Diikuti Puluhan Peserta

Edukasi

Subak Kawasan Sakral, Dilarang Seks dan Pertumpahan Darah di Sawah

Dari Desa

Di Desa Sangket Ada Tiga Pelinggih Mobil, Berikut Ini Kisahnya Mistisnya

Unik Bali

“Gugon Tuwon” Wuku Dungulan, Pahami Galungan Bersifat “Loka Dresta”

Unik Bali

Screening Ketat Plastik Sekali Pakai di Karya IBTK 2026 Pura Agung Besakih

Komunitas

Ayo Saksikan Drama Gong Lawas di Art Centre, 17 Desember 2022

Politika

Jaga Tanah dan Manusia Bali, Prof Palguna: Hentikan Politisasi Desa Adat

Unik Bali

Tawur Agung Kesanga di Kota Denpasar Dipuput Sarwa Sadhaka