Home / Edukasi / Unik Bali

Kamis, 1 September 2022 - 00:37 WIB

Subak Kawasan Sakral, Dilarang Seks dan Pertumpahan Darah di Sawah

Prof. Wayan Windia saat memberikan ceramah tentang subak kepada para peserta BIFSS di Subak Selat, Karangasem.

Prof. Wayan Windia saat memberikan ceramah tentang subak kepada para peserta BIFSS di Subak Selat, Karangasem.

KARANGASEM – Bali International Field School for Subak (BIFSS) tahun 2022 dilaksanakan di Subak Selat di Kabupaten Karangasem. Dengan pelaksanaan BIFSS diharapkan Subak Selat bisa berkembang pesat untuk menyejahterakan petani. Kini di Subak Selat sedang dikembangkan pertanian organik, koperasi tani, dan lainnya.

Ketua Stispol Wira Bhakti, Prof. Wayan Windia, pada Senin, 29 Agustus 2022, diundang untuk memberikan ceramah tentang subak kepada para peserta BIFSS. Sehingga para peserta bisa mendapatkan pemahaman awal tentang subak. Selanjutnya, hingga hari Jumat, 2 September 2022, para peserta akan berdiskusi untuk bisa memberikan rekomendasi kepada pemeritah. Para peserta BIFSS tahun 2022 berasal dari beberapa kampus di Indonesia dan dari luar negeri, di antaranya dari Austria.

Pada kesempatan itu, Prof. Windia berbicara tentang definisi subak, fungsi subak, sejarah subak, bagaimana subak menerapkan filsafat Tri Hita Karana (THK), apa-apa yang tidak boleh dilakukan di kawasan subak, dll. Disebutkan bahwa berdasarkan beberapa purana (catatan sejarah), masyarakat dilarang bermain seks di kawasan sawah (subak), tidak boleh berkata-kata kasar, dan tidak boleh ada adu fisik hingga mengeluarkan darah.

Baca Juga :  Gubernur Koster Luncurkan Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun

“Larangan itu dilakukan karena kawasan subak adalah kawasan yang sakral. Buktinya, kawasan subak secara rutin disajikan ritual,” ujar Prof. Windia.

Semua ritual itu, lanjut dia, ditujukan untuk memuliakan Tuhan YME dalam wujud-Nya sebagai Dewa Wisnu dan Dewi Sri. Bagaimana kalau ada pelanggaran? Maka yang bersangkutan akan dikenakan sanksi. Sanksinya, pada dasarnya adalah berupa ritual, yang disebut dengan upacara Mebalik Sumpah.

Ketua Pelaksana BIFSS, Dr. Catrini Pratihari Kubontubuh, M.Sc (Dr. Ari) mengatakan, pelaksanaan BIFSS tahun ini adalah pelaksanaan yang ke-8. Sebelumnya pernah diselenggarakan di Gianyar dan di Kota Karangasem. Sejak tahun lalu dipusatkan di Jero Tumbuk (Selat) dan Subak Selat sebagai tempat praktik lapangan. Disebutkan bahwa tema yang dibahas dalam pelaksanaan BIFSS tahun ini adalah “The Role of Digital Technologies in the Preservation of Subak and Balinese Cultural Heritage”.

Baca Juga :  Mengaku Kejambretan, Dua Karyawan SPBU Ternyata Gelapkan Uang Rp671 Juta

Diharapkan berbagai usaha yang telah dilaksanakan oleh yayasannya, yakni Yayasan Bali Kuna dan Bumi Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) dapat bermanfaat bagi budaya Bali. “Saya dan keluarga tinggal di Jakarta. Namun saya secara rutin pulang untuk membina subak di Bali,” katanya.

Ia berharap agar Pemda di Bali ikut menjaga subak, dan memberikan perhatian yang sepadan bagi subak, agar warisan dunia ini bisa lestari.

Yayasan Bali Kuna dipimpin oleh suaminya, Gusti Lanang Widiarta, SH. Pada kesempatan itu Gusti Lanang mengatakan, berbagai kegiatan sosial, budaya, dan ekonomi dilaksanakan di Jero Tumbuk. Ia berharap pihaknya dapat meneruskan tradisi orang tuanya yang sangat sosial terhadap masyarakat.

“Setelah saya melanglang buana ke mana-mana hingga pensiun, maka kini saatnya kami berbuat sesuatu untuk desa dan subak di sekitar rumah kami. Semuanya itu adalah untuk melanjutkan tradisi leluhur kami,” kata Lanang Widiarta. dbc

Share :

Baca Juga

Edukasi

Rektor UHN: AICIS Ke-21, Semangat Moderasi Beragama dan Kampus Kerukunan

Edukasi

Seribuan Peserta Ramaikan Gebyar Yoga Bali Kuno

Edukasi

Mendikbudristek Dorong Perguruan Tinggi Laksanakan Program MBKM Mandiri

Edukasi

Kasus TBC Seperti Gunung Es, Pemkab Buleleng Target Peningkatan “Tracing”

Dari Desa

Penglingsir Puri Agung Mengwi Kukuhkan Penglingsir Puri Agung Jembrana

Peristiwa

Patung Wisnu Murti Bakal Dibangun Kembali, Patung Bung Karno Dipindahkan

Edukasi

Ada Layanan Bus Gratis Sarbagita di UHN Sugriwa

Unik Bali

Tidak Lagi di Lapangan Puputan, Tawur Agung Kesanga Kota Denpasar Digelar di Catus Pata