BULELENG – Upacara Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini atau disebut Ngusaba Bukakak merupakan salah satu tradisi di Desa Giri Emas (Desa Adat Sangsit Dangin Yeh), Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng. Tradisi ritual ini dilaksanakan setiap 2 tahun sekali bertepatan dengan Purnama Sasih Kadasa.
Ketua Panitia, Wayan Sunarsa, menjelaskan, Ngusaba Bukakak diwujudkan seekor burung garuda/paksi yang terbuat dari ambu/daun enau muda dengan dihiasi bunga kembang sepatu/pucuk bang. Bukakak sendiri merupakan simbol perpaduan antara sekta Siwa, Wisnu, dan Sambhu. Untuk sarana yang ditempatkan di dalam Bukakak yakni seekor babi sebagai lambang Dewa Sambhu yang diguling sebagian tubuhnya.
“Hanya bagian punggungnya saja, sedangkan bagian bawah dibiarkan mentah. Sehingga babi tersebut memiliki 3 warna (Tri Datu), yakni merah/bagian matang, hitam/bagian yang masih ada bulunya, dan putih/bagian yg masih mentah dan bulunya telah dihilangkan,” jelasnya.
Bukakak dibuat di pagi hari tepat di hari-H. Setelah selesai, krama desa berkumpul di Pura Pasek/Pura Subak untuk memulai rangkaian Bukakak tersebut. Warga desa yang dipilih untuk mengusung Bukakak/Sarad Ageng tersebut adalah mereka yang sudah dewasa, sedangkan mereka yang masih remaja diperbolehkan mengusung Sarad Alit.
“Remaja berumur 12 tahun keatas menggunakan pakaian putih kuning untuk mengangkat (ngogong) sarad alit, sedangkan laki-laki berumur 17 tahun ke atas menggunakan pakaian putih merah untuk ngogong sarad ageng/bukakak,” tegasnya.
Ngusaba Bukakak tersebut bertujuan untuk mengucapkan terima kasih kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa dalam manifestasinya sebagai dewi kesuburan atas kesuburan tanah dan segala hasil pertanian yang melimpah.
Pada Purnama Kedasa tahun ini, Ngusaba Bukakak diiring ke Pura Segara Giri Emas yang diikuti oleh krama desa dan krama subak Desa Giri Emas. Pada kesempatan ini Penjabat (Pj) Bupati Buleleng, Ketut Lihadnyana hadir dalam upacara Ngusaba Bukakak di Pura Desa Giri Emas, Kamis (6/4/2023). (dbc)















