Home / Dari Desa / Unik Bali

Senin, 11 Maret 2024 - 05:53 WIB

Desa Adat Padangbulia Gelar Tradisi Meamuk-amukan Saat Malam Pengrupukan

Desa Adat Padangbulia, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, kembali menggelar tradisi Meamuk-amukan atau perang api pada Minggu (10/3/2024) malam.

Desa Adat Padangbulia, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, kembali menggelar tradisi Meamuk-amukan atau perang api pada Minggu (10/3/2024) malam.

BULELENG – Menjelang hari suci Nyepi, Desa Adat Padangbulia, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, kembali menggelar tradisi unik yang memukau, yaitu Meamuk-amukan atau perang api. Tradisi ini menjadi sorotan utama dalam rangkaian pengrupukan setelah upacara mecaru pada Minggu (10/3/2024).

Pada petang hari setelah upacara mecaru desa, warga dari berbagai kalangan, mulai dari yang muda hingga yang tua, berkumpul di pinggir jalan desa, siap melibatkan diri dalam tradisi Meamuk-amukan yang penuh semangat dan keceriaan.

Sarana yang digunakan dalam tradisi ini sangat sederhana namun sarat dengan makna, yakni daun kelapa kering yang disusun dan diikat menyerupai sapu atau disebut dengan danyuh. Kemudian, dinyalakan dan diadu satu sama lain secara bersemangat.

Baca Juga :  Subak Kawasan Sakral, Dilarang Seks dan Pertumpahan Darah di Sawah

Kelian Desa Adat Padangbulia, I Gusti Ketut Semara, menjelaskan bahwa Meamuk-amukan, atau yang juga dikenal sebagai mapuput, bukan hanya sekadar tradisi, melainkan memiliki makna filosofis yang mendalam. Salah satu tujuannya adalah untuk melepaskan amarah dan hawa nafsu yang mungkin muncul dalam diri setiap individu.

“Sebagai umat Hindu, kami melaksanakan Catur Brata Penyepian, dan Meamuk-amukan adalah simbol dari upaya memadamkan api amarah yang ada di dalam diri kita sendiri,” ujarnya.

Gusti Ketut Semara menegaska, tradisi ini juga membawa makna kebersamaan dan nilai persaudaraan antarwarga. “Tradisi Meamuk-amukan menjadi momen yang meriah dalam menyambut tahun baru Saka, diwarnai dengan kebersamaan dan sukacita,” imbuhnya.

Baca Juga :  Seorang Wanita Tewas Terperosok ke Jurang Saat Mendaki Gunung Abang

Salah seorang pemuda, Yoga, berbagi pengalamannya, Ia menyatakan bahwa tradisi ini telah turun-temurun dilaksanakan setiap malam pengerupukan. Dia berharap agar tradisi ini semakin dikenal oleh masyarakat luas.

“Saya sudah mengikuti mapuput dari kecil karena ini adalah bagian dari tradisi. Meskipun pernah mengalami cedera akibat terbakar sedikit, namun itu tidak sampai menyebabkan luka parah,” ungkapnya.

Tradisi Meamuk-amukan di Desa Adat Padangbulia tidak hanya menjadi bagian dari upacara menyambut hari raya Nyepi, tetapi juga merupakan warisan budaya yang memperkuat ikatan sosial dan kebersamaan di tengah masyarakat desa yang penuh kegembiraan. (dbc)

Share :

Baca Juga

Dari Desa

Karya Atma Wedana Maligia Punggel di Kesiman Upacarai 398 Sekah

Dari Desa

Padangsambian Klod Festival: Pelestarian Budaya, Tingkatkan Perekonomian Masyarakat

Komunitas

Libur Galungan, Anak-anak “Ngelawang” Barong Bangkung

Dari Desa

Lomba Kreativitas Olahan Singkong di Dusun Wanasari

Dari Desa

Atiwa-tiwa Desa Adat Kemenuh Tahun 2025 Upacarai 54 Sawa

Dari Desa

Lahan Kosong di Panjer Jadi Lokasi Pembuangan Sampah Liar

Dari Desa

Ogoh-ogoh Sang Hyang Penyalin Karya STT Giri Kusuma Bikin Tim Juri Tertegun

Unik Bali

Pura Pertama di Belanda