DENPASAR – Tradisi “ngelawang” serangkaian hari raya Galungan dan Kuningan tetap eksis di Kota Denpasar. Seperti tampak pada Minggu (8/1/2023) sore, sekaa barong anak-anak “ngelawang” di seputaran Jalan Ahmad Yani, Peguyangan, Kota Denpasar.
Sekaa barong itu merupakan kumpulan anak-anak dari Banjar Hita Buana, Peguyangan. Dengan memainkan sebuah Barong Bangkung diiringi gamelan Bebatelan, belasan anak berkeliling di seputaran Jalan Ahmad Yani Utara. Satu per satu pintu rumah warga dilewatinya, baik di jalan utama maupun di beberapa gang di kawasan itu.
Mereka pun berhenti ketika ada warga yang “ngupah” atau memberi saweran. Lalu anak-anak itu menarikan barong di depan rumah warga tersebut. “Ada yang ngasi 2 ribu rupiah, ada 5 ribu, 10 ribu. Paling banyak 20 ribu,” ujar beberapa anak saat ditanya besaran uang saweran yang mereka terima.
Aditya, salah satu anak menuturkan, kegiatan “ngelawang” sudah dilakoni anak-anak Banjar Hita Buana sejak beberapa kali Galungan. “Tapi sebelumnya kami pakai Barongsai. Ini Barong Bangkung baru bikin sebulan yang lalu, beli tapel 350 ribu,” ujar anak SMP itu.
Dia melanjutkan, dalam Galungan kali ini, sekaa barongnya sudah mulai “ngelawang” sejak Paing Galungan. Hari pertama, Jumat (6/1/2023), mereka berhasil mengumpulkan saweran sebesar Rp400 ribu. Kemudian pada hari kedua, Sabtu (7/1/2023), terkumpul sebesar Rp700 ribu.
Anak-nak itu mengaku akan “ngelawang: sampai menjelang Kuningan nanti. Uang hasil ngelawang itu, selain mereka bagi bersama anggotanya, juga akan disisihkan untuk biaya perawatan barong dan sarana “ngelawang” lainnya. “Kemarin kami bikin barong juga pakai uang urunan bersama,” pungkas Aditya.
Kegiatan “ngelawang” itu pun menjadi hiburan bagi warga, terutama anak-anak, apalagi saat ini dalam suasana liburan sekolah. Tak hanya warga Hindu, tampak warga Muslim pun ikut “ngupah” Barong Bangkung tersebut. (dbc)















