Home / Dari Desa / Edukasi / Unik Bali

Jumat, 17 Februari 2023 - 12:57 WIB

Lontar Perlu Dirawat dengan Baik, Jangan Lupa Dibaca!

Penyuluh Bahasa Bali saat melakukan konservasi lontar di Desa Adat Buahan, Kintamani, Bangli, Jumat (17/2/2023).

Penyuluh Bahasa Bali saat melakukan konservasi lontar di Desa Adat Buahan, Kintamani, Bangli, Jumat (17/2/2023).

BANGLI – Penyuluh Bahasa Bali, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, melaksanakan konservasi lontar di Desa Adat Buahan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Jumat (17/2/2023). Pada kegiatan konservasi dalam rangka Bulan Bahasa Bali V Tahun 2023 ini berhasil dikonservasi lontar milik Jero Bendesa Adat Buahan dengan jumlah 15 cakep.

Koordinator Penyuluh Bahasa Bali di Kabupaten Bangli, I Wayan Sudarsana, menjelaskan, kegiatan konservasi ini dilakukan dalam rangka penyelamatan naskah-naskah kuno yang tersimpan di masyarakat. “Tujuan utama kami adalah kondisi fisik lontar milik masyarakat terselamatkan. Kemudian dibaca untuk diketahui isinya, diidentifikasi lalu digitalisasi berupa foto untuk selanjutnya akan dialihaksarakan secara bertahap,” ujar Sudarsana.

Edukasi kepada Pemilik

Dalam pelaksanaan konservasi, tidak hanya melakukan pembersihan terhadap lontar. Yang lebih penting yakni memberikan edukasi kepada pemilik lontar dalam hal menjaga dan memelihara lontar warisan leluhurnya. “Lontar itu perlu dirawat dengan baik, perlu ditempatkan di tempat yang benar agar tidak rusak. Mengingat lontar terbuat dari bahan organik sehingga rawan dimakan rayap, maka perlu perlakuan-perlakuan khusus dengan bahan-bahan khusus seperti minyak sereh dan alkohol,” ujarnya.

Saat Tim Penyuluh Bahasa Bali melakukan pendataan lontar di masyarakat khususnya di wilayah Kintamani, sejatinya banyak ditemukan keberadaan lontar yang tersimpan di masyarakat. Namun masih banyak masyarakat yang belum mengizinkan lontarnya untuk dikonservasi. Alasannya, karena lontar yang ada sangat disakralkan. Akhirnya ada beberapa lontar milik masyarakat tersebut tidak terawat, bahkan rusak.

Baca Juga :  Lomba Poster Digital dan Fotografi Meriahkan Bulan Bung Karno di Kecamatan Denpasar Utara

“Beruntung untuk lontar di Desa Adat Buahan ini, sang pemilik yakni Jero Bendesa Adat Buahan masih rutin merawat dan membaca lontarnya. Hanya saja, mengingat kondisi alam di Desa Adat Buahan yang dingin, maka ada sebagian lontar yang kondisinya kurang baik. Dari 15 cakep lontar 14 cakep dapat teridentifikasi, sementara 1 cakep tidak dapat diidentifikasi,” ungkap Sudarsana.

Masyarakat Jangan Khawatir

Bendesa Adat Buahan, I Made Antara, mengatakan, lontar yang dia warisi itu merupakan lontar milik leluhurnya yang bernama Almarhum Jero Kubayan Ginas dan almarhum I Made Jara. Terkait isi lontar setelah dibaca dan diidentifikasi oleh tim Penyuluh Bahasa Bali, terdapat beberapa jenis lontar, di antaranya lontar terkait Padewasan (Penentuan Hari Baik), Puja-Puja Pitra Yadnya, Lontar Usadha (Pengobatan Tradisional), Lontar Tenung Pawetuan Rare, Lontar Dharma Laksana Alaki Rabi, Lontar Upatani (Pertanian), Lontar Babad Keluarga, Lontar Pembuatan Kajang, Lontar Surya Sewana.

Baca Juga :  Cap Go Meh 2024 Berlangsung Meriah di Singaraja

Menurut dia, dengan kegiatan konservasi yang dilaksanakan ini, sangat membantu menyelamatkan lontar-lontar yang ada di masyarakat terutama yang ada di pelosok desa. “Kami sejatinya tidak tahu bagaimana tahapan perawatan lontar. Mungkin dulu hanya sekadar meminyaki pakai tingkih, tetapi dengan apa yang sudah dijelaskan oleh penyuluh, kami jadi tahu ternyata teknik konservasi lontar sangat penting untuk diketahui,” ujarnya.

Terkait dengan adanya masyarakat yang masih meyakini bahwa lontar itu tenget, Antara mengaku memang lontar itu perlu disakralkan. Namun menurut dia, sejatinya lontar itu sama dengan ilmu, sama dengan buku. Kalau hanya disakralkan kemudian tidak dibaca dan dirawat, itu namanya disakralkan yang salah.

“Memang lontar sakral, sehingga proses pembacaan tidak bisa sembarangan, perlu ritual, kemudian saat dibaca beralaskan dulang, tidak di lantai. Tetapi kalau sampai tidak dibaca sama sekali, itu malah nantinya lontarnya rusak, ilmunya juga tidak didapat. Maka, masyarakat tidak perlu khawatir lontarnya dikonservasi,” tandas Jero Bendesa Adat Buahan itu. (dbc)

Share :

Baca Juga

Peristiwa

Patih Agung Drama Gong dan Guru Besar UHN Prof. I Wayan Sugita Berpulang

Edukasi

Dukung Program RBD, Balai Bahasa Provinsi Bali Luncurkan Inovasi Parasali

Unik Bali

Tidak Lagi di Lapangan Puputan, Tawur Agung Kesanga Kota Denpasar Digelar di Catus Pata

Komunitas

Ayo Saksikan Drama Gong Lawas di Art Centre, 17 Desember 2022

Unik Bali

Dibuka Megawati, PKB XLV Berlangsung hingga 16 Juli 2023

Unik Bali

Ada Tiga Kelompok “Rerainan”, Berikut Penjelasannya!

Edukasi

Gaungkan Nasionalisme Lewat Barisan Perempuan Tangguh

Dari Desa

Jaya Negara Mendem Pedagingan di Prajapati Pura Kahyangan Sumerta