Home / Unik Bali

Minggu, 9 Februari 2025 - 17:30 WIB

Tiga Sulinggih Muput Upacara Pawintenan Bersama di Banjar Adat Bakung

Tiga sulinggih muput upacara pawintenan bersama di Banjar Adat Bakung, Sukasada, Kabupaten Buleleng pada Sabtu (8/2/2025) bertepatan hari Saraswati.

Tiga sulinggih muput upacara pawintenan bersama di Banjar Adat Bakung, Sukasada, Kabupaten Buleleng pada Sabtu (8/2/2025) bertepatan hari Saraswati.

BULELENG – Upacara pawintenan bersama digelar di Pura Dalem Banjar Adat Bakung, Desa Adat Sukasada, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Upacara yang digelar bertepatan dengan hari suci Saraswati, Sabtu (8/2/2025) itu diikuti dipuput tiga sulinggih dan diikuti sebanyak 111 peserta.

“Total pemilet upacara pawintenan sebanyak 111 orang. Peserta tidak dikenakan biaya, hanya menghaturkan sesari pada pejati saja sesuai keikhlasan,” ujar Jro Mangku Sustiardana selaku ketua panitia pawintenan.

Jro Mangku Sustiardana, menyampaikan para peserta pawintenan terdiri dari pemangku (suami-istri) dan peserta perorangan seperti serati, prekangge, sutri, tapakan. Adapun jenis pawintenan yang dilaksanakan meliputi pawintenan panca rsi, ganapati, dasa guna, serta pawintenan saraswati.

Pelaksanaan pawintenan bersama bertempat di Pura Dalem Banjar Adat Bakung, Desa Adat Sukasada.

Lebih lanjut disampaikan, upacara pawintenan bersama ini dipuput tiga orang sulinggih. Ketiganya, yaitu Ida Pandita Dukuh Celagi Dhaksa Dharma Kirti, Ida Pedanda Bajra Sikara, dan Ida Bhagawan Wiweka Dharma.

“Selain muput pawintenan, dalam kesempatan ini, Ida Nak Lingsir sekaligus memberikan dharma tula kepada krama yang hadir, berkaitan dengan makna upacara pawintenan itu sendiri,” katanya.

Jro Mangku Sustiardana mengatakan, pihaknya bersyukur upacara yang digagas Paguyuban Pemangku Banjar Adat Bakung ini telah berjalan dengan lancar. Hal ini berkat dukungan krama dan klian Banjar Adat Bakung. Pelaksanaan upacara ini juga didukung oleh Yayasan Padukuhan Sri Chandra Bhaerawa, dengan ketuanya Jro Mangku Ketut Suryadi Putra.

Baca Juga :  Puncak Karya di Pura Agung Jagatnatha Denpasar, Ida Bhatara Nyejer hingga 23 November

Ida Pandita Dukuh Celagi dalam sesi dharma tula menjelaskan bahwa ada lima tahapan pawintenan. Yaitu pawintenan sari, pawintenan saraswati, pawintenan dasa guna, pawintenan ganapati, dan pawintenan panca rsi. Tingkatan pawintenan itu dibedakan sesuai dengan rerajahan yang digunakan.

Kepada mereka yang mawinten ditekankan bahwa upacara pawintenan ini sebagai dasar untuk menjadi pelayan umat yang baik. Selanjutnya agar terus mengisi diri dengan belajar. “Pawintenan hanya sebagai dasar atau landasan kita mau melangkah ke mana. Supaya berhasil dalam pembelajaran, tentu harus terus belajar,” pesan sulinggih dari Padukuhan Siddha Swasti, Peguyangan, Kota Denpasar itu.

Sementara itu, Klian Banjar Adat Bakung, Jro Putu Joni Sandiasa, mengatakan, terselenggaranya upacara ini berawal dari prakarsa Paguyuban Pemangku Banjar Adat Bakung. Setelah itu, pihaknya selaku Kelian Adat Bakung sekaligus juga Bendesa Adat Sukasada diberitahukan terkait rencana itu. Ia pun memberikan saran untuk membuat panitia untuk pawintenan bersama.

Baca Juga :  Yayasan Padukuhan Sri Chandra Bhaerawa Gelar Pawintenan Massal di Pura Sakenan
Ida Pandita Dukuh Celagi memberikan dharma tula kepada krama yang hadir dalam upacara pawintenan bersama.

“Selanjutnya disepakati pawintenan massal ini yang dilaksanakan pada rahina Saniscara Umanis Wuku Watugunung atau rahina Saraswati. Dengan peserta pasangan suami istri dan juga peserta perorangan,” ujarnya seraya mengatakan pelaksanaan upacara ini juga banyak dibantu oleh Jro Mangku Suryadi.

Dalam pelaksanaan upacara ini, lanjut Jro Putu Joni, selain menghadirkan unsur adat, juga mengundang unsur dinas/administratif. Dalam hal ini hadir Lurah Sukasada, PHDI Kecamatan Sukasada, dan Penyuluh Agama Hindu Kantor Agama Buleleng. “Jadi pelaksanaan upacara pawintenan ini menghadirkan tri upasaksi, yaitu dewa, buta, dan manusa,” imbuhnya.

Jro Putu Joni pun berharap kepada mereka yang sudah mawinten untuk terus mengasah diri, meningkatkan kompetensi sesuai bidangnya masing-masing. “Semoga yang mawinten semakin bisa meningkatkan aguron-guron. Dari saraswati ke dasa guna. Begitu pula dari ganapati ke pancarsi. Alangkah baiknya lagi jika nanti bisa sampai munggah dwijati,” harapnya. (dbc)

Share :

Baca Juga

Unik Bali

Ayo, Saksikan PKB dan FSBJ Selama Juni dan Juli 2023

Komunitas

Tangkal Joged Jaruh, Paiketan Seniman Tabanan Komit Jaga Etika Tari Joged Bumbung

Komunitas

Ida Dukuh Celagi: Bhaerawa Ajaran Cinta Kasih, Lakukan Pelayanan dengan Penuh Bakti

Unik Bali

Uncal Balung Pantang “Nangun Karya”

Peristiwa

Patung Wisnu Murti Bakal Dibangun Kembali, Patung Bung Karno Dipindahkan

Unik Bali

Sepuluh Seniman Terima Adi Sewaka Nugraha Tahun 2023

Peristiwa

Patih Agung Drama Gong dan Guru Besar UHN Prof. I Wayan Sugita Berpulang

Dari Desa

Penglingsir Puri Agung Mengwi Kukuhkan Penglingsir Puri Agung Jembrana