Home / Komunitas / Unik Bali

Senin, 24 April 2023 - 14:59 WIB

Tangkal Joged Jaruh, Paiketan Seniman Tabanan Komit Jaga Etika Tari Joged Bumbung

Workshop Pakem Joged Bumbung Tradisi Menuju Modernisasi, dibuka oleh Sekda I Gede Susila di Gedung Kesenian I Ketut Maria Tabanan, Minggu (23/4/2023).

Workshop Pakem Joged Bumbung Tradisi Menuju Modernisasi, dibuka oleh Sekda I Gede Susila di Gedung Kesenian I Ketut Maria Tabanan, Minggu (23/4/2023).

TABANAN – Tarian Joged Bumbung belakangan ini tidak terlepas dari stigma negatif, karena sebagian masyarakat ada yang mengidentikkan tarian tersebut dengan goyang jaruh. Terkait hal itu, Pemkab Tabanan pun mendukung inisiasi Paiketan Seniman Tabanan, sekaligus berkolaborasi menggelar workshop Joged Bumbung.

Kegiatan bertajuk “Workshop Pakem Joged Bumbung Tradisi Menuju Modernisasi” ini dibuka oleh Sekda Tabanan, I Gede Susila, di Gedung Kesenian I Ketut Maria Tabanan, Minggu (23/4). Acara tersebut juga dihadiri ketua Paiketan Seniman Bali dan kabupaten/kota se-Bali, ketua MDA Tabanan, para narasumber dan moderator, serta para penasihat dan pembina Paiketan Seniman Bali Kabupaten Tabanan.

Bupati Tabanan dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Sekda Susila, mengatakan melalui workshop diharapkan bisa menghasilkan pakem-pakem etika dari tarian Joged Bumbung, yang merupakan tarian pergaulan masyarakat Bali. Tarian ini ada di semua kabupaten, termasuk Tabanan. “Agar tidak keluar dari pakem-pakem yang sudah ada, yang nantinya akan jadi acuan dari sekaa-sekaa joged di Tabanan,” harapnya.

Baca Juga :  Tiga Gong Kebyar Duta Denpasar Satu Panggung: Ada Anak-anak, Wanita, dan Dewasa

Pakem yang keluar dari tarian joged ini dikatakan bukan hanya dari sang penari, namun juga bisa dari pengibing maupun gamelan yang mengiringi. Untuk itu, diimbau kepada seluruh seniman, terutama sekaa-sekaa joged di Tabanan agar mampu memberikan pemahaman kepada para pengibing joged maupun memilih gamelan yang sesuai dengan etika.

“Kita tidak bisa mengurangi kebebasan berekspresi dari masyarakat, namun melalui workshop ini ada norma-norma gerakan yang diatur, kemudian disosialisasikan kepada masyarakat, sehingga pengibing joged pun mengikuti. Tarian erotis dari penari joged juga bisa ditutupi oleh pakem-pakem yang sudah ada, dan saya percaya seniman-seniman saat ini sudah pintar dalam melestarikan tari pergaulan ini,” katanya.

Ketua panitia I Made Novianta mengatakan workshop Joged Bumbung ini bertema “Revitalisasi dan Modernisasi Tari Joged Bumbung yang Dilandasi Pakem Tradisi untuk Mewujudkan Tabanan Era Baru yang Aman, Unggul dan Madani”. Tema ini ditetapkan karena kurangnya media sosialisasi dan edukasi tarian Joged Bumbung yang sesuai dengan nilai estetika yang ada dalam Joged Bumbung, sehingga mengarah ke gerak tarian porno aksi ataupun joged jaruh.

“Paiketan Seniman Bali Kabupaten Tabanan berkolaborasi dengan Pemkab Tabanan menyelenggarakan ‘Workshop Joged Bumbung’ sebagai upaya mengembalikan nilai-nilai etika yang ada pada Joged Bumbung, sehingga kami berharap saat ini joged kembali positif citranya. Untuk itu, kami pun memilih narasumber yang kompeten dalam kegiatan workshop ini,” kata Novianta.

Baca Juga :  Astungkara! Umat Hindu Kini Bisa Beribadah Rutin di Candi Prambanan

Workshop tersebut menghadirkan narasumber di antaranya Ni Luh Nyoman Sri Suryati, S.Sn., praktisi seni tari asal Tabanan, dan Komang Edi Diana, S.Sn. alias Tompel, yang juga praktisi seni, dan I Ketut Rudita alias Sokir, praktisi seni karawitan Bali. Sebanyak 80 perwakilan sekaa joged dan 26 penari joged antusias mengikuti pagelaran workshop tersebut. (dbc)

Share :

Baca Juga

Komunitas

Astungkara! Umat Hindu Kini Bisa Beribadah Rutin di Candi Prambanan

Komunitas

Cap Go Meh 2024 Berlangsung Meriah di Singaraja

Komunitas

PKK Jembrana Berbagi di Hari Kartini

Komunitas

Tiga Sekaa Gong Kebyar Duta Denpasar Siap Tampil Terbaik di PKB 2025

Unik Bali

Karya Ngenteg Linggih di Unud Dipuput Tiga Sulinggih

Edukasi

“Ketut Garing” Ternyata Putra Raja // Dari Pentas Drama Teater Jineng

Edukasi

Wali Kota Denpasar Resmikan Graha Nawasena Rumah Harapan Disabilitas

Dari Desa

Di Desa Sangket Ada Tiga Pelinggih Mobil, Berikut Ini Kisahnya Mistisnya