Home / Turisme

Kamis, 23 Oktober 2025 - 16:57 WIB

Saatnya Reinterpretasi Pariwisata Budaya Bali

Ida Pandita Mpu Brahmananda (Prof I Gede Pitana) saat memaparkan materi.

Ida Pandita Mpu Brahmananda (Prof I Gede Pitana) saat memaparkan materi.

DENPASAR – Ida Pandita Mpu Brahmananda (Prof. Dr. I Gede Pitana) menyerukan pentingnya melakukan revitalisasi dan reinterpretasi terhadap konsep Pariwisata Budaya Bali. Menurutnya, Bali saat ini tidak sedang baik-baik saja.

“Bali bukan lagi Bali yang dulu. Overtourism, tekanan terhadap lahan pertanian, serta komersialisasi budaya telah menggerus nilai-nilai lokal yang menjadi dasar pariwisata budaya,” ujarnya dalam Pasamuhan Alit Kebudayaan Bali (PAKB) 2025 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Rabu (22/10/2025).

Ida Pandita menyoroti bahwa sejak era Master Plan SCETO 1974, konsep Pariwisata Budaya sejatinya dirancang sebagai sistem yang terkendali — menjaga keseimbangan antara budaya, sosial, dan lingkungan. Prinsip dasarnya sederhana: “Don’t change Bali, let Bali change the visitors.”

Pembangunan Lepas Kendali

Namun, seiring desentralisasi dan perkembangan industri, arah pembangunan pariwisata kian lepas kendali. “Pusat pertumbuhan terkonsentrasi di Bali Selatan, sementara wilayah lain tertinggal. Terjadi komersialisasi budaya dan tekanan sosial akibat migrasi dari luar Bali,” jelas Prof. I Gede Pitana.

Baca Juga :  Parade Budaya 9 Kecamatan Meriahkan HUT Ke-422 Kota Singaraja

Dalam paparannya, Ida Pandita menelusuri evolusi regulasi pariwisata Bali, mulai dari Perda 3/1974, 3/1991, 2/2012, hingga Perda 5/2020 tentang Standar Penyelenggaraan Kepariwisataan Budaya Bali. Semua dokumen tersebut konsisten menegaskan bahwa Bali mengusung Pariwisata Budaya yang berlandaskan Tri Hita Karana dan Sad Kerthi.

Tolak Dikotomi Budaya dan Pariwisata

Ida Pandita Mpu Brahmananda mengkritik pola pikir dikotomis yang kerap memosisikan budaya dan pariwisata sebagai dua entitas yang saling bertentangan. Ia mengusulkan pendekatan holistik-integralistik dengan analogi pohon: akar (adat dan agama), batang (kehidupan sosial budaya), dan buah (kreasi seni dan pariwisata).

Baca Juga :  Kecelakaan Lift di Ubud, Mekanik dan Pemilik Ayu Terra Resort Tersangka

“Pariwisata dan budaya tidak semestinya saling meniadakan, melainkan saling menghidupi. Pariwisata budaya justru bisa menjadi sarana pelestarian warisan budaya, jika dikelola dengan nilai dan taksu Bali,” tegasnya.

Sebagai penutup, Ida Pandita menegaskan bahwa untuk mencapai pariwisata Bali yang berkualitas, berkelanjutan, dan berpihak pada masyarakat lokal, diperlukan tata kelola berbasis pulau. “Sudah saatnya Bali kembali pada konsep one island, one management — satu kesatuan wilayah, satu pola, satu tata kelola,” tandasnya. (dbc)

Share :

Baca Juga

Turisme

Pengunjung Taman Edelweis Merosot Drastis Sejak November 2022

Ekbis

ASDP Tata Gilimanuk Jadi Pelabuhan Termodern di Indonesia

Peristiwa

Mengawati Kunjungi KEK Sanur, Ingatkan Pesan Soekarno

Ekbis

Delegasi TWG Nikmati Seni Budaya Bali di Atas Kapal Pinisi

Dari Desa

Desa Sudaji Terapkan Community Based Tourism

Turisme

Kemenparekraf Sosialisasikan Fitur Panic Button pada Aplikasi Sisparnas dan QR SAR

Turisme

Hilton Hadirkan Properti Pertama LXR Hotels & Resorts di Asia Tenggara Melalui Peluncuran Umana Bali

Turisme

Fokus Destinasi Baru, Buleleng Targetkan 1,7 Juta Kunjungan Wisatawan