KLUNGKUNG – Yayasan Padukuhan Sri Chandra Bhaerawa (PSCB) kembali menggelar upacara pawintenan bersama yang dirangkaikan pujawali di Pasraman Sri Taman Ksetra, Desa Pikat, Kecamatan Dawan, Klungkung, bertepatan dengan Tilem Kadasa, Senin (8/4/2024) lalu.
Pawintenan bersama atau massal yang merupakan program rutin yayasan, tahun ini diikuti oleh 225 peserta, baik dari internal anggota yayasan, umum hingga umat dari Jawa dan Jakarta. Peserta dikenakan punia mulai Rp250 hingga Rp350 ribu.
Adapun tingkatan pawintenan, yakni Saraswati, Dasa Guna, Ganapati, dan Panca Rsi, dan pawintenan Bhaerawa. Ada juga upacara munggah jero gede yang diikuti sepasang pemangku (suami-istri). Demikian dijelaskan ketua panitia pawintenan I Putu Merta di sela kegiatan.
Merta mengaku telah menyosialisasikan rencana pawintenan massal ini melalui ‘platform’ media sosial untuk memperluas jangkauan informasi umat/calon pemangku. “Tujuan kami untuk membantu umat, khususnya calon pemangku agar secara spiritual dan administrasi jero mangku- jero mangku itu sah dalam artian sudah mawinten, dengan tingkatan sesuai dengan kepemangkuannya,” ujarnya.
Merta pun menegaskan prosesi pawintenan di Yayasan PSCB sama seperti pawintenan pada umumnya. Ia tak menampik ada komentar-komentar ‘nyeleneh’ dari warganet yang mencurigai pawintenan di tempatnya menjurus ke hal ‘desti’. Menurutnya, oknum seperti itu hanya belum paham saja.
“Mungkin yang paling disorot ketika proses menutup kepala dengan rurub. Itu dikira aneh. Dikira seram. Padahal itu adalah proses penyatuan frekuensi. Selanjutnya rurub itu bisa dipakai destar ke pura,” jelasnya.

Secara etimologi, lanjut Merta, pawintenan berasal dari kata inten/intan yang berkilau. Sehingga prosesi ini tidaklah menyeramkan, bahkan menurutnya, para mahasiswa baru di perguruan tinggi keagamaan Hindu, juga mengikuti prosesi pawintenan sebelum memulai perkuliahan reguler untuk memohon kelancaran selama berkuliah.
Ketua Yayasan PSCB, Jro Mangku Ketut Suryadi Putra, menambahkan, program Yayasan PSCB selama ini bergerak dalam kegiatan sosial keagamaan. Selain beberapa kali menggelar pawintenan kinembulan atau bersama, yayasan menyelenggarakan memukur dan metatah bersama.
Selain itu, Yayasan PSCB mengadakan diklat kepemangkuan dan pembinaan umat. Bahkan, beberapa kali yayasan mendampingi Ida Dukuh Celagi memberi pembinaan kerohanian bagi para nara pidana di lembaga pemasyarakatan.
Ida Pandita Dukuh Celagi Dhaksa Dharma Kirthi, saat sesi dharma tula usai upacara pawintenan bersama, menjabarkan, pawintenan Bhaerawa ditujukan bagi siapa saja yang berkeinginan mempelajari dan memperdalam ajaran Bhaerawa yang penuh cinta kasih.
Pawintenan Bhaerawa adalah sebagai dasar untuk mempelajari pengetahuan ajaran Bhaerawa. “Nak Lingsir ingin menyebarluaskan ajaran cinta kasih Bhaerawa. Selama ini pandangan masyarakat tentang Bhaerawa, negatif, karena belum paham,” ucapnya.
Ida Dukuh Celagi menekankan kepada para peserta bahwa upacara pawintenan ini dasar untuk jadi pelayan umat yang baik. Besar kecilnya upacara pawintenan bukan jaminan menjadikan seseorang hebat.
“Jaminannya, ya harus belajar. Sehebat apapun rerajahan, sesakti apa pun guru yang memberi pawintenan itu, jaminan berhasil adalah harus dengan belajar yang banyak. Pawintenan hanya sebagai dasar atau landasan kita mau melangkah ke mana,” pesan Ida Dukuh Celagi. Pawintenan kali ini juga dipuput oleh Ida Pedanda Gede Sikara Bajra Yoga. (dbc)















