DENPASAR – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan perkembangan terkini penanganan bencana banjir dan longsor yang melanda Provinsi Bali pada 9-10 September 2025. Hingga Senin (15/9/2025), dampak bencana tercatat cukup besar, baik dari sisi korban jiwa maupun kerugian material.
Data Pusat Pengendalian dan Operasi (Pusdalops) BNPB menyebutkan sebanyak 18 orang meninggal dunia, sementara 4 orang lainnya masih dalam pencarian. Selain itu, terdapat 6.309 kepala keluarga (KK) yang terdampak langsung, serta 157 jiwa mengungsi di sejumlah titik pengungsian yang disiapkan pemerintah daerah.
BNPB mencatat kerusakan material cukup signifikan. Sebanyak 520 unit fasilitas umum mengalami kerusakan, 3 jembatan putus, 23 titik jalan rusak, 82 tembok atau penyengker jebol, dan 194 rumah warga rusak. Kota Denpasar menjadi wilayah dengan kerusakan fasilitas umum terbanyak, mencapai 474 unit.
Di Kabupaten Jembrana, kerusakan paling besar terjadi pada rumah warga dan infrastruktur jalan. Sementara itu, di Kabupaten Karangasem dilaporkan satu jembatan putus, 47 rumah rusak, serta 14 bendungan terdampak.
Pencarian Korban
Sejak kejadian, upaya pencarian korban terus dilakukan oleh tim gabungan, meski di lapangan dihadapkan pada kendala akses dan kondisi cuaca. Evaluasi terhadap operasi pencarian juga dilakukan untuk mempercepat hasil.
Selain itu, koordinasi lintas wilayah diperkuat dengan penetapan status tanggap darurat yang berlaku sejak 10 hingga 17 September 2025 di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota terdampak. Sebagai pusat koordinasi, Pos Komando Penanganan Darurat dibentuk di Desa Kusamba, Kabupaten Klungkung, untuk mengintegrasikan langkah penanganan lintas wilayah.
BNPB bersama BPBD Provinsi Bali dan BPBD kabupaten/kota terdampak hingga kini masih melaksanakan penanganan darurat. Fokus utama mencakup penyedotan air di area tergenang, pembersihan material sisa banjir dan longsor, serta pembukaan akses jalan agar aktivitas masyarakat dapat segera pulih. (dbc)















