SEBAGAI pembuka uraian tentang Galungan, penulis akan mengutip teks lontar yang memuat tentang Galungan. Diawali dengan kutipan yang penting dan luput dari pengamatan masyarakat untuk memahami Galungan, yang isinya sebagai berikut, “Hana mwah warahning Loka Dresta, nga”.
Loka Dresta, kata kunci dari hari raya Galungan, tidak pernah kita pahami dengan benar sekarang yang berdampak pada “penyeragaman” hari raya Galungan di seluruh Bali. Sesungguhnya kalau diperhatikan dengan baik bahwa di seluruh Bali tidak semua daerah melaksanakan hari raya Galungan karena hari raya Galungan merupakan hari raya yang sifatnya “loka dresta”. Inilah poin penting kalau kita mengacu hari raya kita di Bali (rerahinan) betul-betul kembali ke sastra Gama Bali.
Gugon Tuwon, Nak Mula Keto, Loka Dresta, Sima Dresta (puniki “siman” tiang deriki) adalah ungkapan dari masyarakat Bali yang sesungguhnya masih menjaga “etika” di dalam menjalankan tradisi gama-nya yang tidak berani dilanggarnya. Karena hal itu merupakan tradisi yang telah diwariskan oleh leluhurnya yang sesungguhnya berdasarkan tatwa dari Gama masyarakat Bali.
Memahami upacara di Bali mestinya dilandasi oleh tatwa, susila dan upacara. Sekarang yang luput dari makna pemahaman kita tentang upacara kita di Bali adalah tradisi gama di Bali mengacu pada kesatuan tafsir dan dipaksakan pendekatannya menggunakan “Weda” untuk menjelaskan makna dari tradisi gama di Bali, sehingga apa yang tersebut diatas tentang loka dresta dalam kutipan teks lontar menjadi bias pelaksanaan dari tradisi gama di Bali.
Loka dresta kalau dilihat dari situs dan ritusnya atau gugon tuwonnya sangat jelas sekali bahwa di Bali mempunyai tiga wilayah rohani yang berbeda yaitu, Maha Agung, Maha Rata, dan Maha Awidya. Mempunyai tiga kelompok hari raya yang berbeda yang disebut dengan rerahinan. Pertama, Sang Prabu melaksanakan pemujaan pada saat Galungan. Kedua, Sang Bujangga melaksanakan pemujaan pada saat Pegorsi. Ketiga, Sang Patih melaksanakan pemujaan pada saat Tumpek.
Sang Kala Tiga
Sekarang marilah kita bahas Ritus Galungan. Galungan kalau dilihat dari tatwa sesungguhnya merupakan kelompok dari pemujaan Sang Prabu. Adapun yang paling penting dipahami pada saat Galungan adalah Wuku Sungsang dan Wuku Dungulan. Berbicara Galungan, makna dari upacara Sugihan pada saat Wara Sungsang yang harus dipahami terlebih dahulu yaitu penyamblehan di “nata umah” dan selanjutnya hasil penyamblehan itu dijadikan pengerebuan.
Kenapa melakukan penyamblehan dan pengerebuan pada saat Sugihan? Karena pada saat Wara Dungulan akan turun Sang Kala Tiga dan saat Manis Galungan pretima yang berwujud “wisesa” akan napak pertiwi “ngelawang” ke rumah-rumah para damuh Ida Bhetara. Inilah sesungguhnya kenapa kita melakukan penyamblehan di natah umah pada saat Sugihan.
Sebelum lanjut membahas Galungan, penulis akan kutip lanjutan teks lontar yang tersebut di atas;
“Wara Dungulan, Ra, pa, nga, panyekeban, nga, warahning loka, ika turun Sang Kala Tiga, nga, mandadi Sang Bhuta Galungan, nga, arepa nadah anginum manusa ri madyapada, matangyan sang wiku mwah wong sujana, den pratyaksa wastu nikang adnyana nirmala, lamakane tan kasurupan dening Sang Kala Tiga, kayatna akna wong kabeh, nga”
Berdasarkan kutipan teks lontar di atas, pada hari Minggu adalah turunnya Sang Kala Tiga yang berwujud menjadi Sang Bhuta Galungan yang akan menggoda umat manusia. Dalam konteks teks tersebut di atas, Sang Prabhu dan Sang Bhujangga melakukan kewajiban “sesana” sebagai tedung jagat melindungi masyarakat supaya terhindar dari godaan Sang Bhuta Galungan. Kalau Sang Patih melakukan persiapan untuk menyambut hari raya Galungan dengan mulai membuat tape (nyekeb tape) dan mempersiapan bahan upakara lainnya.
Caru di Catuspata
“Ca, po, ngapanyajaan paruh ning loka, ngawenang wastu wayadi ngamong yoga semadi maka pituhutanya Sadgana lawan Bhatara, nga”
Pada hari Senin adalah turunnya Sang Kala Tiga dalam wujud Sang Bhuta Dungulan yang akan menggoda umat manusia. Maka, Sang Prabu dan Sang Bhujangga melakukan kewajiban sesana-nya melaksanakan tapa brata yoga semadi (ngemong sastra, nengeting setra) dan Sang Patih mulai membuat kue-kue untuk galungan dan mempersiapkan upakara (mejahitan).
“A, wa, nga, panampan, panadah ikangira Sang Kala Tiga, mamaning Sang Nglara dening pakreti de wong kabeh, wenang wehana Bhuta yadnya ring catus patani desa, sarupaning yadnya wenang, anutakna nista madya utama, nga, pinuja dening, Siwa, Boda, Bhujangga, apanika wenang anguriping bayun Raja menala kabeh, nga…..”
“….………..ikang wong wenang abyakala, maprayascita, ngayab sasayut, raris mabakti ring Sang Hyang Tiga Sakti, nunas panjang yusa sekala niskala, nemu ayu palanya, tur jaya kosa ring paparangan”
Selanjutnya pada hari Selasa adalah turunnya Sang Kala Tiga dalam wujud Sang Bhuta Amangkurat yang akan menggoda umat manusia. Maka, Sang Prabu dan Sang Bhujangga melakukan kewajiban sesana-nya melaksanakan bhuta yadnya di catuspata dan pempatan agung dengan memerintahkan penyarikan melakukan penyamblehan di ajang Ratu Gede Penyarikan atau Pelinggih Ulun Banjar.
Ritus ini dikenal di masyarakat ritusnya adalah “nampah celeng di banjar” yang akan diolah menjadi caru yang terkecil (sarupaning yadnya wenang), yaitu nasi sasah nganuting urip ulamnya jejeron matah yang diambil dari penyamblehan yang akan dipersembahkan di catuspata, pempatan agung, peteluan maupun karang tenget lainnya di desa tersebut.
Sisa penyamblehan babi itu dibagikan keseluruh krama banjar yang akan diolah menjadi bakaran yang dipersembahkan di natah umah, hulun karang masing-masing masyarakat dan dijadikan lawar yang akan dipersembahkan hulun karang masing-masing tegak karang yang ditempati dengan “tetandingan be karangan” (penamyu).
Penjor untuk Galungan Nadi
Inilah kewajiban Sang Patih dan selanjutnya mulai memasang lamak sampyan, mengisi caratan coblong di pelinggih sanggah dan merajan, membuat penjor Galungan dipasang pada saat Penampan Galungan hari Selasa kalau Galungannya Nadi.
Selanjutnya seluruh masyarakat saat Penampan Galungan ini melaksanakan pebyakawonan dan meprayascita dengan natab sesayut Penampan Galungan di natah umah. Memohon kepada Sang Hyang Tiga Wisesa panjang umur dan berjaya dalam perang kehidupan, karena Sang Kala Tiga sudah di-somya oleh Sang Prabu dan Sang Bhujangga menjadi Sang Hyang Tiga Wisesa. (Perhatikan proses ritual dari Sang Prabu dan Sang Bujangga mulai hari Minggu sampai hari Selasa).
“Bu, ka, Dungulan, Galungan, nga, patitisi kang adnyana mangda galang apadang, telasakna byaparaning idep, aturakna widi wedananya, ri sarwa dewa, ri sanggar, ri parhyangan agung alit, tumpeng pajegan, penek wangkulan, canang maraka, ajuman, sedah woh, kembang payas, wangi-wangi, pasucian, ika sane munggah, nga. ………….
Yan ya anemu purnama, ika, nga, Galungan Angembak, wenang wang kabeh ananceb penjor ring lambunya suwang-suwang, nga…”
Ritus Galungan sudah sangat jelas. Penulis tidak akan bahas lebih lanjut karena pada saat ini kita akan melakukan pemujaan di semua sanggah, merajan, dan pura-pura yang menjadi pemujaan kita sebagai pengempon, pemaksan, dan penyungsung.
Ritus “Nyurud Ayu”
Sehari setelah Galungan disebut Manis Galungan. Apa yang dilakukan oleh masyarakat? Ada baiknya baca kutipan teks lontar:
“Wus mangkana banten ika jenek sawengi, nyejer kabeh, ri enjang enjing semeng, wenang wong kabeh asuci laksana, kabeh ngamet weh putra, kala pranata saha kramas dening kumkuman, anulih mantuk, mabersih, raris mangaturan puspa maring sanggah, saha wangi-wangi, anunas pakuluh, tenga asuguh ri sor, tur ayab wong rarene, nga, wawu wenang parid banten Galungane, nga,
Wong Sang Purahita mwah Sujana wruhe tatwa suksema, mawnang mayoga semadi, nga, mangkana waraning loka dresta, inukni, nga,
Yan tan samangkana baur kang ikang rat, duka Sang Hyang Tiga Wisesa, nga, anadi Bhuta Dungulan, Bhuta Galungan, Bhuta Amangkurat angadug-adug ring Rajamanala Sang Prabhu, hayuwa ima-ima madesa, nguteran desa rusak kang rat telas
Warahni loka ika,….”
Pada Manis Galungan ini adalah ritus dari “nyurud ayu” dari Sang Patih. Dapat dilihat dari natab banten yang dipersembahkan pada saat Galungan yang merupakan penugrahan dari Ida Bhetara (kenapa tidak boleh disurud banten dari pura saat Galungan).
Pelaksanaan ritus nyurud ayu oleh masyarakat sekarang mulai menghilang. Bahkan, Manis Galungan dikenal sekarang sebagai waktu untuk jalan-jalan yang semestinya kita lakukan adalah tangkil ke puri maupun ke griya minta restu kepada Sang Prabu dan Sang Bhujangga untuk mendapatkan bekal perang kehidupan kita. Kemudian minta restu kepada orang tua dan silaturahmi kepada sanak keluarga kita.
Sang Prabu dan para pemangku pada saat Manis Galungan, kalau mendapat pawisik dari Ida Bhetara, melakukan sesana-nya dengan nedunang Ida Bhetara napak pertiwi “ngelawang” ke segenap damuh Ida Bhetara sehingga masyarakat akan mendapatkan kemakmuran. Inilah tradisi dari Loka Dresta masyarakat Bali dalam menjalankan tradisi gama-nya.
Rangkaian Galungan berakhir pada saat Penelahan Galungan dan berakhir pula waktu ngelawang. Penelahan Galungan tidak sama waktunya yang dilaksanakan oleh masyarakat karena kewajibanya sebagai pengempon pura dengan tegak odalan yang berbeda. (tim/dbc)















