Home / Unik Bali

Minggu, 4 Oktober 2026 - 09:05 WIB

Bhaerawa dan Buddha Sesana Dikupas, Dorong Keseimbangan Spiritual di Era Modern

Bincang penulis (greet and meet) di Ruang Audio Visual Gedung DNA, Sabtu (3/10/2026) membahas keberadaan ajaran Bhaerawa dan Buddha Sesana.

Bincang penulis (greet and meet) di Ruang Audio Visual Gedung DNA, Sabtu (3/10/2026) membahas keberadaan ajaran Bhaerawa dan Buddha Sesana.

DENPASAR – Ajaran Bhaerawa dan Buddha Sesana dikupas dalam sesi bincang penulis (greet and meet) Gebyar Literasi 2nd Kota Denpasar di Ruang Audio Visual Gedung Dharma Negara Alaya, Sabtu (3/10/2026). Pembahasan tersebut menyoroti nilai-nilai spiritualitas yang dinilai relevan untuk membangun ketenangan batin, keseimbangan jiwa, serta pembenahan karakter di tengah kehidupan modern.

Kegiatan yang digagas Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Denpasar tersebut mengangkat tema “Keseimbangan Spiritual & Ketenangan Batin melalui Ajaran Bhaerawa dan Buddha Sesana”. Forum ini menghadirkan tiga tokoh spiritual Bali untuk membedah ajaran Bhaerawa, Buddhisme Mahayana, hingga Vajrayana yang dituangkan dalam karya-karya buku mereka.

Melalui forum tersebut, membaca dan membedah buku tidak hanya ditempatkan sebagai aktivitas untuk memperoleh pengetahuan kognitif. Lebih dari itu, literasi diarahkan menjadi ruang refleksi untuk memahami nilai spiritual dan penerapannya dalam kehidupan bermasyarakat.

Moderator diskusi, Jero Mangku Ketut Suryadi, mengatakan penulisan karya-karya buku yang dibahas dalam forum tersebut merupakan wujud nyata gerakan Jnana Yajna atau pengorbanan suci dalam bentuk pembagian ilmu pengetahuan.

Menurut Ketua Yayasan Padukuhan Sri Chandra Bhaerawa tersebut, gerakan itu penting untuk membuka paradigma baru di tengah masyarakat Bali agar pemahaman terhadap agama tidak hanya berfokus pada ranah ritual semata.

“Kita ingin membuka pembelajaran dengan menulis buku. Sebagaimana pesan pendiri bangsa Bung Hatta, buku adalah sumber energi dan kebebasan bagi mereka yang haus akan ilmu. Melalui karya tulis, para narasumber menunjukkan kemuliaan dengan membagikan pencerahan yang dapat dibaca dan dihayati oleh segenap umat,” ujar Jero Mangku Suryadi.

Sesi pemaparan diawali oleh Jero Gede Aksobhya yang membawakan materi dari buku Sutra Maha Aksobhya. Ia menyoroti pentingnya keteguhan hati dan ketenangan batin dalam tradisi Buddhisme Mahayana dan Vajrayana.

Baca Juga :  Simbol Kesuburan, Ngusaba Bukakak di Desa Giri Emas Setiap 2 Tahun Sekali

Menurutnya, keteguhan batin bukan berarti seseorang tidak pernah menghadapi ujian. Sebaliknya, keteguhan tersebut tercermin dari kemampuan seseorang menjadikan berbagai goncangan dalam kehidupan sebagai pondasi untuk membangun pendirian yang kokoh.

“Dalam ajaran Aksobhya, kita diajak tidak terguncang oleh kemarahan dan perubahan zaman, melainkan mampu mengendalikan kesadaran itu sendiri. Pengetahuan setinggi apa pun tidak akan ada nilainya jika tidak diimplementasikan langsung dalam perilaku hidup bermasyarakat,” tegas Jero Gede Aksobhya.

Selanjutnya, Ida Bhagawan Ratna Bumi Dharma Kirti mengupas isi buku Sutra Maha Amitabha. Ia membagikan kisah perjalanan spiritualnya ketika berada di titik nadir kehidupan akibat himpitan ekonomi dan kemerosotan moral era Zaman Kali.

Dalam kondisi tersebut, petuah dari guru spiritualnya, “Jangan putus asa, Nak,” menjadi pemantik kebangkitan batinnya. Ida Bhagawan kemudian menguraikan konsep jiriki, yakni kekuatan ego pribadi, dan tariki, yakni kekuatan kasih di luar diri.

Menurutnya, manusia kerap berputus asa ketika kekuatan pribadi tidak lagi mampu mengejar ambisi material. Dalam kondisi itulah ajaran Buddha Amitabha menawarkan jalan pembebasan melalui kasih sayang tanpa batas.

“Sang Hyang Amitabha diposisikan sebagai cahaya agung tanpa batas yang tidak pernah memilih, menghakimi, atau menuntut kesempurnaan manusia. Beliau menerima siapapun apa adanya. Wujud sebagai manusia adalah berkah utama karena hanya dengan menjadi manusialah kita bisa membedakan baik-buruk serta melebur perbuatan masa lalu menjadi kebaikan,” ungkap Ida Bhagawan.

Sementara itu, pemateri ketiga, Ida Pandita Dukuh Celagi Dhaksa Dharma Kirti, membedah bukunya bertajuk Bhaerawa Jnana. Ia meluruskan stigma negatif yang selama ini melekat pada ajaran Bhaerawa.

Menurutnya, Bhaerawa kerap keliru dipahami sebagai aliran mistis yang seram atau destruktif. Padahal, Bhaerawa sejatinya merupakan ajaran luhur yang berlandaskan kasih sayang universal.

Baca Juga :  Prof P. Windia Ungkap Tiga Penopang Utama Keberlanjutan Kebudayaan Bali

“Bhaerawa itu bukan aliran, melainkan ajaran. Filosofi tiga tengkorak dan kuburan dalam ajaran Bhaerawa kerap dinilai menyeramkan, padahal itu adalah simbol meditasi yang sangat mendalam. Tengkorak pertama adalah simbol mematikan ketakutan, tengkorak kedua mematikan ilusi atau keterikatan, dan tengkorak ketiga adalah mematikan ego,” jelasnya.

Ida Dukuh Celagi juga mencontohkan penerapan pematahan ego dalam kehidupan sehari-hari melalui metode penglukatan harmonisasi rumah tangga di padukuhannya. Pasangan suami istri diajak saling mencuci kaki dan saling memohon maaf sebagai upaya menundukkan ego masing-masing demi terciptanya kerukunan keluarga.

Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan antusiasme peserta dari berbagai kalangan, mulai dari akademisi, mahasiswa S3, pengacara, ibu rumah tangga, hingga praktisi budaya. Sejumlah pertanyaan mengemuka, di antaranya mengenai fenomena hegemoni upacara keagamaan, simbolisasi Barong dan Rangda, serta teknis meditasi untuk melepaskan kemelekatan ego di tengah kompleksitas persoalan kehidupan modern.

Menanggapi berbagai pertanyaan tersebut, para narasumber menekankan bahwa pelaksanaan upacara yadnya hendaknya senantiasa didasari keikhlasan, tuntunan sastra, serta disesuaikan dengan kemampuan sehingga tidak membebani batin. Dalam kehidupan beragama di masyarakat, pelaksanaannya juga perlu didasari kesepakatan bersama.

Apresiasi terhadap kegiatan tersebut disampaikan Kepala Bidang Bina Program Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Denpasar, Ni Putu Ayu Ningsih. Ia mengaku mengapresiasi produktivitas para tokoh agama yang tetap meluangkan waktu untuk menulis di tengah kesibukan melayani umat.

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Denpasar berkomitmen terus memfasilitasi para penulis lokal melalui book fair, layanan pendampingan Pojok ISBN IKAPI, serta penyediaan ruang bincang penulis (greet and meet) secara berkelanjutan.

Pada kesempatan tersebut, Yayasan Padukuhan Sri Chandra Bhaerawa juga menyerahkan tiga buku yang dibahas dalam sesi bincang penulis secara gratis kepada peserta yang aktif mengajukan pertanyaan. (dbc)

Share :

Baca Juga

Komunitas

Ida Dukuh Celagi: Bhaerawa Ajaran Cinta Kasih, Lakukan Pelayanan dengan Penuh Bakti

Unik Bali

Prosesi “Ngajum” Jelang Pelebon Raja Denpasar IX

Peristiwa

Patung Wisnu Murti Bakal Dibangun Kembali, Patung Bung Karno Dipindahkan

Unik Bali

Pesamuhan Ida Rsi Bhujangga Waisnawa, Pilih Ketua Sabha Ida Rsi dan Bahas Sesana Kawikon-Penabean

Unik Bali

12 Ogoh-ogoh Terbaik Pawai di Kawasan Catur Muka

Unik Bali

Bertepatan Sugihan Bali, Meru Pura Luhur Uluwatu Dipelaspas

Unik Bali

Ngaben Massal di Banjar Kaliakah, per “Sawa” Kena Biayar Rp 2,5 Juta

Edukasi

Anak-anak Kian Tertarik Baligrafi, Potensial Berkembang Jadi Karya Kreatif