Home / Unik Bali

Rabu, 28 Desember 2022 - 19:16 WIB

Bukan Hanya Sugihan Jawa dan Bali, Ada Juga Sugihan Tenten

SELAMA ini di Bali secara umum dikenal adanya rerahinan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Namun ternyata ada satu lagi Sugihan, tetapi belakangan jarang disebut-sebut.

Dalam beberapa perkembangan tradisi Sugihan Tenten, Sugihan Jawa, dan Sugihan Bali, ada banyak mispersepsi terhadap maknanya. Salah kaprah ini menjadi polemik yang membingungkan masyarakat Bali, khususnya masyarakat Bali yang ada di Jawa tatkala ditanya tentang makna sugihan. Ketiga sugihan ini memiliki makna sebagai wadah pembersihan dan yang menjadi perbedaan terletak pada apa yang dibersikan (disucikan).

Mengenai makna Sugihan masih terdapat hal yang rancu dalam masyarakat. Tidak sedikit yang berpendapat jika merayakan hari raya Sugihan Jawa artinya merupakan keturunan dari Majapahit (Jawa) dan Sugihan Bali artinya keturunan Bali asli.

Karena membedakan perayaannya berdasarkan keterikatan dengan trah keturunan Jawa atau Bali, pada akhirnya Sugihan Tenten tidak pernah dibahas dalam membicarakan Sugihan. Bahkan, Sugian Tenten hampir sebagian masyarakat tidak tahu bahwa ada tiga Sugihan yang harus kita laksanakan (sesuai sesana).

Jika dicoba menelisik dari teks yang ada pada Lontar Sundarigama “Pasucian dewa kalinggania pamrastista bhatara kabeh” dijelaskan bahwa makna dari Sugihan erat kaitannya dengan pembersihan. Makna dari Sugihan Tenten adalah pembersihan dari pelinggih di pura maupun di sanggah dan merajan (mereresik) dan perangkat pemujaanya.

Sugihan Jawa adalah pembersihan (penyucian) makrokosmos atau buana agung (ulun desa) sebagai tempat kehidupan. Sedangkan Sugihan Bali adalah pembersihan (penyucian) mikrokosmos atau buana alit (ulun karang).

Di sini yang dimaksud dengan buana alit adalah bukan badan kita melainkan “teritorial tegak karang yang kita tempati” sehingga upacara pengerebuan dilakukan di “ulun karang” yang pelinggihnya disebut dengan “bedogol” yang mana masyarakat mengenal dengan sebutan Ratu Gede, Ratu Dukuh, Sedahan Karang, dll.

Kebiasaan masyarakat di Bali melaksanakan Sugihan dengan menghaturkan upacara pengerebuan tidak dipahami secara filosofinya. Di bawah ini penulis mencoba mengurai pelaksanaan Sugihan berdasarkan ritus yang ada, sehingga kita bisa melihat lebih jelas tentang makna dari sugihan.

Sugihan Tenten

Sugihan Tenten jatuh pada hari Buda Pon Sungsang merupakan “ngentenin” atau memperingatkan, mengingatkan bahwa Sang Kala Tiga Wisesa akan hadir untuk menggoda umat manusia pada saat Radite Paing Dungulan. Pada saat ini kita melakukan pembersihan (mameresik) di tempat pemujaan yang berupa pelinggih yang ada di pura maupun di sanggah dan merajan serta perangkat pemujaan yang menjadi tanggung jawab sebagai pengempon pura, sanggah, dan merajan (masang wastra, mengisi caratan, coblong, lamak sampian, dll).

Baca Juga :  Bermula Nawur Sesangi, Sapi Gerumbungan Lestari Turun-temurun sebagai Pertunjukan

Sugihan Jawa

Sugihan Jawa jatuh pada hari Wraspati Wage Sungsang adalah pembersihan buana agung (makrokosmos). Makna pembersihan (penyucian), sesungguhnya kalau dilihat dari perspektif filosofinya adalah proses dari awal sampai pelaksanaan upacara pengerebuan-nya.

Pelaksanaan dari ritus Sugian Jawa sesungguhnya yang paling penting adalah ritus penyamblehan yang dilaksanakan di natah umah, jero maupun griya. Yang disambleh pada saat Sugihan Jawa adalah bebek dan ayam putih. Berapa harus nyambleh, itu tergantung dari sesana dan apa yang menjadi warisan dari leluhurnya. Karena sesana ini akan menyebabkan masyarakat mempunyai kewajiban penyamblehan yang berbeda-beda.

Perbedaan inilah yang paling penting harus dipahami dan perbedaan kewajiban itu di antaranya adalah karena perbedaan tanggung jawab sebagai pengempon, pemaksan, dan penyungsung dari pura-pura yang ada di Bali. Di samping itu, kewajiban utamanya adalah “tegak karang” yang kita tempati sebagai “natah tua” di sanggah dan merajan, dan juga di karang baru (ngarangin) yang kita tempati di sebut dengan kemulan.

Ada dua binatang yang berbeda yang disambleh pada saat Sugian Jawa yang diolah menjadi ulam banten pengerebuan, di antaranya betutu bebek dipersembahkan kehadapan Ratu Agung (sanggah dan merajan) dan pejenengan (pelinggih) di pura. Sedangkan betutu ayam putih adalah dipersembahkan ke hadapan luluhur kita, maka persembahan ditempatkan di pelinggih Pertiwi dan Kemulan.

Inilah makna dari pembersihan dengan jalan menghaturkan banten pengerebuan dan prayascita sebagai “penyucian” buana agung. Semua itu dihaturkan kepada Ida Bhatara yang berstana di masing-masing palinggih di pura dan kepada para leluhur yang melinggih di sanggah maupun di merajan.

Baca Juga :  Desa Budaya Jadi Strategi Menjaga Kedaulatan Bali

Sugihan Bali

Sugihan Bali jatuh pada hari Sukra Kliwon Sungsang merupakan pembersihan buana alit (mikrokosmos) penyucian (pembersihan) mikrokosmos atau tegak karang yang kita tempati dan kehadapan Ida Bhatara yang mererep di sanggah dan merajan.

Penyucian dilakukan dengan ritus penyamblehan babi di natah umah, jero maupun griya yang akan diolah menjadi babi guling sebagai ulam upakara pengerebuan untuk dipersembahkan di “ulun karang” maupun dipersembahkan ke hadapan Ida Bhatara yang mererep di sanggah maupun di merajan yang wujud pretimanya adalah Rangda dan pretima yang berwujud “wisesa” lainnya.

Ini Yang Paling Penting

Pertama, masyarakat pengempon pura dan menempati natah tua dimana di sanggah atau merajannya berfungsi sebagai parerepan, maka pengerebuan akan dilaksanakan pada saat Sugihan Bali. Kenapa? Karena Sugihan Bali merupakan sugihan yang bisa menunggalkan “kesaktian” dan “kesucian” artinya pelaksanaan dari Sugihan Jawa bisa sekaligus dilaksanakan pada saat Sugihan Bali.

Saat upacara pengerebuan buana agung yang semestinya dilakukan pada saat Sugihan Jawa, dilaksanakan pada saat Sugihan Bali. Pada saat Sugihan Bali melakukan penyamblehan menggunakan bebek, ayam putih, dan babi. Artinya, sekaligus pada saat Sugihan Bali melakukan penyucian buana agung “ngerebu betutu bebek dan betutu ayam putih” (pejenengan di pura dan Ratu Agung di sanggah dan merajan) dan buana alit “ngerebu babi guling” (pretima di parerepan dan ulun karang).

Kedua, masyarakat yang melakukan pengerebuan pada saat Sugihan Jawa, tidak mempunyai kewajiban seperti yang tersebut pada poin pertama karena masyarakat tersebut tidak “ngempon pretima” yang berupa “wisesa atau rangda” dan tidak mempunyai ulun karang yang berupa Ratu Gede, Ratu Dukuh atau disebut Sedahan Karang, dan banyak sebutan lainnya di Bali. Sehingga, tidak melakukan penyamblehan babi, maka hanya melakukan pengerebuan pada saat Sugihan Jawa saja.

Jadi, perbedaan pelaksanaan pengerebuan bagi masyarakat Bali terletak pada tetamian yang diwariskan oleh leluhurnya sehingga masyarakat mempunyai sesana yang berbeda di dalam melaksanakan upacara pengerebuan. (tim/dbc)

Share :

Baca Juga

Unik Bali

Ayo, Saksikan PKB dan FSBJ Selama Juni dan Juli 2023

Edukasi

Mungkinkah Penyederhanaan Ngaben di Jakarta?

Unik Bali

Tawur Agung Kesanga di Kota Denpasar Dipuput Sarwa Sadhaka

Komunitas

Ayo Saksikan Drama Gong Lawas di Art Centre, 17 Desember 2022

Peristiwa

Empat Seniman Terima Penghargaan Dharma Kusuma dari Gubernur Bali

Komunitas

Ida Dukuh Celagi: Bhaerawa Ajaran Cinta Kasih, Lakukan Pelayanan dengan Penuh Bakti

Dari Desa

Bermula Nawur Sesangi, Sapi Gerumbungan Lestari Turun-temurun sebagai Pertunjukan

Intermeso

Parade Budaya 9 Kecamatan Meriahkan HUT Ke-422 Kota Singaraja