Home / Edukasi / Komunitas / Unik Bali

Minggu, 12 Februari 2023 - 23:30 WIB

Mungkinkah Penyederhanaan Ngaben di Jakarta?

Agung Patera (ketiga dari kiri) usai promosi doktor di Universitas Sahid Jakarta dengan disertasi “Etnografi Komunikasi Ritual Ngaben Umat Hindu Bali di Jakarta”.

Agung Patera (ketiga dari kiri) usai promosi doktor di Universitas Sahid Jakarta dengan disertasi “Etnografi Komunikasi Ritual Ngaben Umat Hindu Bali di Jakarta”.

JAKARTA – Upacara Ngaben dilaksanakan oleh masyarakat Hindu Bali dimana pun berada dengan bentuk komitmen individu dan kelompok terhadap keluarga, adat, dan agama. Hal ini berdasarkan dengan ajaran dari agama Hindu bahwa kematian ini tidak dapat diakhiri dari segalanya, melainkan melaui proses yang panjang awal perjalanan jiwa menuju Parama Atman.

Ritual Ngaben seringkali sangat energik dan paling berwarna dari semua ritual lainnya. Gagasan ini memberikan motivasi umat Hindu untuk melestarikan upacara kematian yang sering tampak sangat energik. Pada sebagian umat Hindu, upacara Ngaben memiliki perhatian yang sangat unik sehingga dilakukan sangat khusyuk, penuh pengabdian, bahkan sesekali sangat sakral dan enerjik.

Hal ini disampaikan Agung Patera dalam promosi doktor ilmu komunikasi di Universitas Sahid Jakarta dengan judul disertasi “Etnografi Komunikasi Ritual Ngaben Umat Hindu Bali di Jakarta”, Kamis, 9 Februari 2023.

“Kadang-kadang seseorang memaksa mereka untuk melakukan ritual Ngaben sangat energik/meriah tanpa mempertimbangkan kondisi yang akan terjadi kepada mereka hadapi dengan meminjam uang di sana-sini, meskipun itu sudah tidak lagi menjadi kebutuhan,” tutur Agung Patera.

Panjangnya prosesi Ngaben, menjadikan kegiatan tersebut tidak dapat dilaksanakan di sembarang tempat. Seluruh rangkaian upacara Ngaben tersebut dari awal persiapan (nyiramin/memandikan) jenazah sampai dengan berakhirnya (ngeseng/pembakaran), umumnya dilakukan secara sakral dan mengikuti aturan dan tuntunan dari sulinggih (orang suci). Kondisi tersebut sering membawa orang Hindu di Bali yang homogen pada posisi harus menerima dan mengikuti setiap petunjuk dan arahan dari sulinggih.

Kondisi Umat Hindu di Jakarta

Agung Patera memaparkan, kondisi berbeda halnya dengan umat Hindu di Jakarta yang heterogen serta kolaborasi yang multikultur dalam berbagai sendi kehidupan dengan umat Hindu lainnya seperti etnis Jawa, Maluku, Sumbawa, dan daerah-daerah lainnya yang memiliki cara dan kemampuan yang berbeda-beda. “Penyesuaian prosesi upacara Ngaben atau pitra yadnya ini terjadi karena berbagai pertimbangan, di antaranya kondisi ekonomi dan lingkungan sosial budaya terlebih jika di wilayah tersebut terdapat kebijakan yang mengatur tentang penanganan jenazah,” ungkapnya.

Baca Juga :  Peringatan Harkop Ke-76 Dirangkaikan Pengukuhan Gensi Kota Denpasar

DKI Jakarta, terdapat Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 3 tahun 2007 tentang Pemakaman. Berdasarkan perda tersebut, prosesi Ngaben seperti layaknya di Bali tidak memungkinkan untuk dilaksanakan pada wilayah DKI Jakarta, karena adanya peraturan yang membatasi waktu penyimpanan jenazah. Di mana pada bagian Kedua, pasal 22 tentang Penundaan Waktu Pemakaman, pada ayat (1) disebutkan bahwa untuk penundaan pemakaman lebih dari 24 jam diperlukan izin dari SKPD terkait. Kemudian, pada ayat (2) dijelaskan bahwa penundaan pemakaman paling lama 5 hari, dan jika lebih harus melakukan perpanjangan izin.

Proses tersebut tentunya kurang sejalan dengan prosesi Ngaben. Karena bagi anggota masyarakat yang mampu, pelaksanaan Ngaben harus dilakukan berdasarkan hari baik dalam perhitungan kalender Hindu Bali. Sementara bagi kelompok yang tergolong tidak mampu, upacara Ngaben harus dilakukan hingga biaya dan tenaga tersedia. Jika dalam masa penantian tersebut jenazah dimakamkan terlebih dahulu, maka proses penguburan harus lebih dari 1 tahun, baru dapat digali kembali setelah mendapat izin dari pejabat yang berwenang.

Ngaben di Banjar Jakarta Utara

Agung Patera dalam disertasinya lebih lanjut mengungkapkan, fenomena yang terjadi saat ini di masyarakat Banjar Jakarta Utara memahami bahwa upacara Ngaben sebagai sebuah ritual yang wajib dilaksanakan walaupun di daerah rantauan. Namun, di sisi lain harus menyesuaikan dengan keadaan setempat. Hal inilah perlu penyelarasan dengan komunikasi-komunikasi yang intens agar dapat mewujudkan pola sesuai dengan kondisi dan keberadaan umat Hindu di Jakarta Utara.

Baca Juga :  KKN PPM Unud Terjunkan 390 Mahasiswa ke 24 Desa

Dengan semangat kebersamaan di tempat rantauan dan memahami konsep peribahasa “dimana bumi di pijak di sana langit di junjung”, pesan yang disampaikan agar mematuhi peraturan di tempat yang didiami. Dengan kata lain, seseorang harus bisa beradaptasi dengan tempat tinggalnya (bukan hanya tempat asal), untuk dapat diterima dengan baik.

“Maka terwujudlah suatu kesepakatan hal bentuk dan pola Ngaben dengan adaptasi yang dilakukan saat ini di Banjar Jakarta Utara, yang dirasakan oleh umat Banjar Jakarta Utara sangat baik dan tidak menjadi beban yang berat bagi umat di kala ada kedukaan,” ungkapnya.

Berdasarkan penelitiannya, Agung Patera mendapati bahwa upacara Ngaben dengan penyesuaian atau adaptasi ini sangat membantu umat, terutama umat Hindu di luar Bali khususnya yang berada di Jakarta. Penyesuain Ngaben ini berjalan dengan baik tanpa mengurangi nilai dan makna ngaben pada umumnya. Juga menjadi pondasi terbentuknya konsep Ngaben yang sederhana di kalangan umat Hindu di Banjar Jakarta Utara sehingga dapat mewujudkan keharmonisasian.

Agung Patera berhasil mempertahankan disertasinya dan dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan serta berhak dengan gelar doktor bidang ilmu komunikasi. (dbc)

Share :

Baca Juga

Komunitas

Yayasan Bakti Pertiwi Jati Konsen pada Pelestarian Situs Budaya dan Alam Bali

Edukasi

Ayo, Hadiri DTIK Festival 2023 di Lumintang! Ada Banyak Agenda Menarik

Intermeso

Teater Jineng Sajikan Parade Monolog “Gelora Cerita Kita” dalam FSBJ V

Edukasi

446 Mahasiswa Universitas Udayana Laksanakan KKN di Bangli

Komunitas

Jelang Waisak, Bupati Badung Salurkan Bansos kepada Umat Buddha

Edukasi

Parade Ogoh-ogoh TK/PAUD di Jembrana, 2.055 Anak Ikut Serta, Tampilkan 42 Ogoh-ogoh

Dari Desa

Ogoh-ogoh Sang Hyang Penyalin Karya STT Giri Kusuma Bikin Tim Juri Tertegun

Edukasi

Donor Darah dalam Rangka Dies Natalis Ke-62 Universitas Udayana