DENPASAR merupakan ibukota dari Provinsi Bali. Sebelum menjadi kota seperti sekarang, di masa kerajaan dulu Denpasar merupakan sebuah nama puri dengan rajanya yang bergelar Ida Tjokorda Ngurah Jambe Pemecutan. Pertengahan Juni 2023 juga ramai diberitakan upacara pelebon atau kremasi Raja Denpasar IX.
Pada awalnya, Denpasar adalah sebuah taman. Pada waktu itu, taman tersebut merupakan taman kesayangan dari Raja Badung, Kyai Jambe Ksatrya. Di taman sebelah utara pasar inilah keluarga besar Raja Badung yang tinggal di Puri Satria dan Puri Pemecutan sering berekreasi.
Nama Denpasar sendiri terdiri dari dua kata yaitu “den” yang berarti utara dan “pasar” yang berarti pasar. Nama ini diberikan pada taman tersebut mengingat lokasinya yang terletak di utara pasar. Pasar yang dimaksud berlokasi di sisi barat daya catus pata Catur Muka, sekarang menjadi Kantor Wali Kota Denpasar.
Taman ini unik, karena dilengkapi dengan tempat untuk bermain adu ayam. Hobi Kyai Jambe Ksatrya adalah bermain adu ayam. Oleh karena itu, tidak jarang sang raja mengundang raja-raja lainnya di Bali untuk bermain adu ayam di taman tersebut.
Taman Denpasar inilah rupanya menjadi perintis kompleks Puri Denpasar yang dibangun pada 1788 oleh I Gusti Ngurah Made Pemecutan, putra I Gusti Ngurah Gde Pemecutan. Nama Denpasar muncul pada saat wilayah yang dahulunya disebut sebagai wilayah Badung ini dipimpin oleh dua kerajaan yaitu Puri Pemecutan dan Puri Jambe Ksatrya.
I Gusti Ngurah Made Pemecutan yang merupakan Raja Badung VI atau juga Raja Denpasar I. Ia digantikan oleh putranya I Gusti Ngurah Jambe Pemecutan/Raja Denpasar II [1813-1817] (ibunya janda Raja Badung V), bertempat tinggal di Puri Ksatria. Raja I Gusti Ngurah Made Pemecutan cinta keindahan alam. Saat dia memegang tampuk pemerintahan di Badung, dibuatlah pertamanan (narmada).
Pembagian Pemerintahan
Menurut peneliti sejarah Kota Denpasar yang juga Guru Besar Sejarah Fakultas Sastra Unud, AA Bagus Wirawan, saat itu terdapat dua puri yang menandakan adanya dua pemerintahan. Kedua pemerintahan tersebut sebenarnya dipimpin oleh keturunan yang sama, yaitu Kyai Jambe Pule. Pembagian dari keduanya pun cukup jelas. Wilayah barat Tukad Badung yang dikontrol oleh Puri Pemecutan, sedangkan sebelah timur Tukad Badung pimpin oleh Puri Jambe Ksatrya.
Taman yang dibangun oleh Kyai Jambe Ksatrya itulah yang kemudian dijuluki sebagai Denpasar. Selanjutnya taman itu juga disebut Puri Denpasar, karena juga menjadi tempat peristirahatan raja. Hanya saja nama Denpasar belum merujuk pada kota tertentu.
Namun Puri Denpasar kemudian dihancurkan oleh kolonial Belanda saat Perang Puputan Badung pada tahun 1906. Hingga kemudian bangunan bekas Puri Denpasar hanya digunakan sebagai kantor Asisten Residen Bali Selatan dan juga Kontroleur Badung.
Selanjutnya Puri Denpasar dibangun ulang oleh Cokorda Alit Ngurah yang pada tahun 1929 dinobatkan sebagai Regent Badung. Namun dikarenakan lokasi Puri Denpasar yang baru adalah bekas lokasi dari Puri Jambe Ksatrya, masyarakat Bali justru menyebutnya sebagai Puri Satria.
Dalam perkembangan selanjutnya setelah Indonesia merdeka. Puri Denpasar yang telah dihancurkan oleh kolonial Belanda tersebut menjadi Jaya Sabha, rumah jabatan untuk Gubernur Bali sampai sekarang. Sebagian wilayah Puri Denpasar yang telah dihancurkan itu juga menjadi bagian dari Inna Bali Hotel yang juga didirikan saat pemerintahan kolonial. (dbc/dbs)



Pembagian Pemerintahan






