Home / Dari Desa / Komunitas

Jumat, 16 Juni 2023 - 23:33 WIB

Pentingnya Komunitas Relawan dalam Penanggulangan Erupsi Gunung Api

Tim Komunitas relawan lereng Gunung Agung usai menjadi pembicara dalam workshop yang diselenggarakan MFRI di Jepang.

Tim Komunitas relawan lereng Gunung Agung usai menjadi pembicara dalam workshop yang diselenggarakan MFRI di Jepang.

DENPASAR – Tim Komunitas relawan lereng Gunung Agung yang terdiri atas Nyoman Sukma Arida Ketua (Wakil Dekan 1 Fakultas Pariwisata, Unud); Ketua Pasebaya Agung, I Gede Pawana; Jennifer Sarah (Koordinator Tim MFRI Indonesia); Dr. Wiwit Suryanto (Wadek 1 Geofisika FMIPA UGM); dan Rizky Tri Septian dari BNPB melakukan kunjungan ke Provinsi Yamanashi di Jepang pada tanggal 10-20 Juni 2023.

Salah satu agenda utamanya adalah mengikuti workshop yang diselenggarakan oleh Mount Fuji Research Institute (MFRI) di lereng Gunung Fuji. Workshop tersebut berlangsung Rabu (14/6/2023) dengan menghadirkan narasumber secara online dan offline.

Dalam kesempatan itu, Presiden MFRI, Prof. Fujii Toshitsugu, menekankan pentingnya saling belajar antara dua negara, Indonesia dan Jepang, terkait penanganan erupsi dan mitigasi bencana gunung api. “Ke depan kerja sama ini harus diperkuat lagi pada hal-hal yang lebih strategis,” ucap Prof. Fujii saat memberikan sambutan.

Project Manager dari MFRI, Dr. Mitsuhiro Yoshimoto, mengharapkan agar kegiatan ini bisa menjadi ajang saling belajar antara masyarakat Yamanashi, Jepang dengan Kabupaten Karangasem, Bali dalam melakukan mitigasi bencana erupsi. “Masyarakat sekitar Gunung Fuji harus belajar banyak kepada masyarakat Karangasem karena masyarakat kami 300an tahun belum pernah mengalami peristiwa erupsi,” ucapnya.

Teknologi dan Kesigapan

Deputi Sistem dan Strategi BNPB, Dr. Raditya Jati, yang hadir secara secara online dalam paparannya menyampaikan, keberhasilan penanganan letusan Agung tahun 2017 menunjukkan bahwa dampak letusan terhadap warga relatif dapat tertangani dengan baik karena penggunaan teknologi dan kesigapan masyarakat di sekitar lereng Agung yang bahu-membahu membantu para pengungsi.

Baca Juga :  Seru! Ratusan Anggota Keluarga Besar Varash Ikuti “Varash Special Day” di Bali Zoo Park

“Pengungsi gunung api di Bali dan Indonesia pada umumnya memiliki karakter yang unik, yakni para kepala keluarga berada di pengungsian hanya pada malam hari. Sementara siangnya mereka kembali ke desanya untuk memberikan makan ternak-ternak mereka,” paparnya.

Leader Projek AGAA (Astungkara Gunung Agung Aman) Dr. Wiwit Suryanto, yang merupakan peneliti vulkanologi dari Program Studi Geofisika Fakultas MIPA UGM memberikan penekanan pada soal penguatan materi vulkanologi kepada masyarakat. Seringkali karena ketidakpahaman warga terkait tingkat kerawanan wilayahnya sehingga memunculkan kepanikan pada saat kejadian erupsi.

Kewaspadaan Tinggi

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Karangsem, Ida Bagus Ketut Arimbawa, yang juga hadir secara online, menjelaskan bahwa di samping memiliki berbagai potensi SDA dan pariwisata Kabupaten Karangasem juga memiliki banyak ancaman bencana, terutama ancaman erupsi Gunung Agung, tanah longsor, dan kekeringan. Kondisi ini menuntut warga masyarakat Karangasem untuk memiliki kewaspadaan yang tinggi dalam mengantisipasi bencana alam.

Sementara itu, Ketua Pasebaya Agung, I Gede Pawana, membabarkan perihal pengalaman Forum Pasebaya Agung pada saat menangani erupsi Gunung Agung. Menurut dia, ada tiga faktor yang membuat keberhasilan penanganan pengungsi saat erupsi Gunung Agung tahun 2017 yaitu: penguatan komunitas, kejelasan informasi, dan ketaatan masyarakat terhadap arahan dari Pemerintah.

Baca Juga :  Varash Gelar Aksi Bersih Lingkungan dan Olahraga Bersama di Lapangan Renon

Pembicara terakhir, Sukma Arida membahas tentang peluang pariwisata sebagai medium penyampaian pesan-pesan mitigasi. Ia mengemukakan bahwa di kawasan lereng Agung penting untuk memperkuat pengembangan destinasi wisata yang memberikan wawasan kegunungapian dan mitigasi kepada warga lokal dan wisatawan.

Aturan Ketat Pendaki

Selama di Jepang, Tim mitra MFRI di Indonesia juga berkesempatan melakukan kunjungan ke stasiun 5 pendakian Gunung Fuji untuk mempelajari Gunung Fuji secara detail dan pengelolaan wisata pendakian gunung Fuji. Wisata Gunung Fuji dikenal merupakan wisata pendakian gunung yang sangat populer dengan jumlah pengunjung sekitar 5.000 orang pada saat bulan padat pengunjung, meskipun Gunung Fuji hanya dibuka selama tiga bulan per tahun yakni bulan Juni, Juli, dan Agustus.

Mereka memberlakukan aturan yang sangat ketat terkait perilaku pengunjung selama melakukan pendakian. Wisatawan tidak diperkenankan mendirikan tenda, membuat api unggun, dan membuang sampah sembarangan. Para pendaki juga diwajibkan menggunakan guide yang sudah disediakan untuk menjamin keselamatan para pendaki. (dbc)

Share :

Baca Juga

Edukasi

Ayo, Hadiri DTIK Festival 2023 di Lumintang! Ada Banyak Agenda Menarik

Dari Desa

Pembinaan Kader Posyandu Remaja Desa Dauh Puri Kaja

Komunitas

Workshop dan Lomba Makepung, Bentuk Pelestarian Budaya dan Promosi Wisata

Dari Desa

Lahan Kosong di Panjer Jadi Lokasi Pembuangan Sampah Liar

Dari Desa

Desa Budaya Jadi Strategi Menjaga Kedaulatan Bali

Dari Desa

Jokowi Serahkan Bantuan Pangan bagi Masyarakat di Desa Batubulan Gianyar

Dari Desa

Pelatihan Advokasi Menuju Desa Inklusi di Kesiman Kertalangu

Dari Desa

Desa Adat Padangbulia Gelar Tradisi Meamuk-amukan Saat Malam Pengrupukan