Home / Dari Desa / Unik Bali

Selasa, 1 April 2025 - 11:05 WIB

Lomba Ogoh-ogoh Desa Adat Karangasem, STT Banjar Pebukit Raih Juara I

Ogoh-ogoh karya STT Banjar Pebukit yang meraih Juara I dalam lomba ogoh-ogoh Desa Adat Karangasem.

Ogoh-ogoh karya STT Banjar Pebukit yang meraih Juara I dalam lomba ogoh-ogoh Desa Adat Karangasem.

KARANGASEM – Ribuan warga masyarakat Kota Amlapura dan sekitarnya tumpah ruah menyaksikan parade ogoh-ogoh yang digelar Desa Adat Karangasem, Kabupaten Karangasem bertepatan dengan Tawur Kasanga, Jumat 28 Maret 2025.

Membeludaknya penonton tidak seperti parade ogoh-ogoh sebelumnya, karena baru kali pertama ini Desa Adat Karangasem menggelar parade dilombakan dan berhadiah uang serta piala.

Jumlah ogoh-ogoh yang mengikuti parade sebanyak 29 buah dari 20 peserta sekaa teruna-teruni (STT)/banjar. Dari 20 peserta, 2 STT/banjar berkolaborasi dengan peserta STT/banjar lainnya sehingga sebanyak 18 buah ogoh-ogoh yag dinilai juri.

Pesertanya dari STT/banjar se-Desa Adat Karangasem dan desa tetangga yakni Desa Adat Susuan dan Tampuagan. Juga dimeriahkan sebagai pendukung oleh masing-masing peserta 2 – 3 buah Ogoh-ogoh mini yang diusung oleh anak-anak.

Terhitung catatan dari panitia lomba daftar peserta penggusung dan pendukung ogoh-ogoh sekitar seribu orang lebih.

Lomba ogoh-ogoh ini terasa seru dan menarik mendapat aplus sorak sorai dalam suasana malam cuaca cerah dari masing-masing pendukung dan penonton yang memadati hampir sepanjang rute perjalanan ogoh-ogoh.

Keseruannya, selain atraksi di lima titik sepanjang jalan yang telah ditentukan panitia. Saat menggusung ogoh-ogohnya hampir semua peserta tampilan ogoh-ogohnya didukung fragmentari, alunan sinopsis alur cerita, dan atraksi budaya bernuansa magis religious sesuai dengan tema ogoh-ogoh yang ditampilkan ditambah alunan gong baleganjur bertalu-talu saling bersahutan terasa suasana seram malam itu.

Pengumuman pemenang langsung diumumkan oleh panitia usai gelaran lomba hampir tengah malam pukul 00.00 Wita di Catus Pata Taman Budaya Candra Bhuwana Amlapura.

STT Bhakti Hita Karya, Banjar Pebukit, dengan karya ogoh-ogoh berjudul “Pemurtining Pralaya Ing Buana memperoleh nilai 1.795. Ogoh-ogoh dengan nilai tertinggi ini pun berhasil dinobatkan sebagai Juara I dan berhak menerima hadiah Rp3 juta, piala tetap, dan piala bergilir.

Baca Juga :  Jangan Lewatkan Kesanga Fest 2024, Ada Parade 12 Ogoh-ogoh Terbaik di Kota Denpasar

Juara II diraih oleh STT Iswara Banjar Kerti Celuk Negara dengan pgoh-ogoh “Pasupati Rencanam” yang memperoleh nilai 1.785, berhak terima hadiah uang Rp2 juta dan piala.

Sedangkan Juara III disabet STT Kumuda Jaya Banjar Tampuagan, Desa Adat Tampuagan nama ogoh-ogoh “Ulah Pati Karma” yang berhasil mendapat nilai 1.783. Juara III mendapat hadiah uang Rp1 juta dan piala.

Hadiah uang dan piala langsung diserahkan malam itu usai parade kepada para pemenang oleh Bendesa Adat Karangasem, IDG Ngurah Surya Y. Anom, didamping Penyarikan, I Wayan Supandhi, dan Ketua Panitia Lomba yang juga Baga Palemahan, I Made Arnawa.

Wujud fisik ogoh-ogoh peraih juara I “Pemurtining Pralaya Ing Buana” yakni berupa Barong, Dewa Gana, Kali Maya, dan Dewi Durga. Dewa Gana sedang melepaskan anak panah menyasar Dewi Durga.

 

Ketua STT Bhakti Hita Karya menerima hadiah uang dan piala dari Bendesa Adat Karangasem IDG Ngurah Surya Y. Anom.

Ketua STT Bhakti Hita Karya, I Kadek Budiarta, menjelaskan, tema karyanya tersebut dikutip dari lontar Siwagama. Sepenggal cerita singkat, Dewi Uma yang merupakan istri Dewa Siwa turun ke Bumi untuk mencarikan obat Ida Sang Batara Siwa yang sedang sakit mengalami kesulitan mencarikan susu sapi putih untuk menyembuhkan suaminya.

Setelah berusaha keras dan merasa putus asa, ia akhirnya bertemu dengan Dewa Siwa yang menjelma sebagai pengembala sapi putih. Si penggembala menawarkan susu sapi tersebut dengan syarat Dewi Uma harus melayani nafsunya. Meskipun awalnya menolak, demi kesembuhan suaminya, Dewi Uma menyanggupi syarat tersebut.

Baca Juga :  Enam Sulinggih “Muput” Tawur Agung Kesanga di Kota Denpasar

Budiarta yang juga arsitek ogoh-ogoh tersebut menerangkan, filosofi ogoh-ogohnya, diperlukan pemahaman dan kesadaran sejati untuk tidak mengambil suatu keputusan agar tidak ada penyesalan di kemudian hari, karena kejadian saat itu benar atau atau tidak benar sulit membedakan.

Dia menuturkan, ogoh-ogoh jenis tersebut pernah dibuatnya untuk parade ogoh-ogoh sebelumnya, tapi alami patah. Karena rasa jengah, jenis ogoh-ogoh tersebut kembali dibuat.

“Bahan ogoh-ogoh yang saya buat tanpa menggunakan gabus dan styrofoam, pakai ulatan bambu, kertas koran, tisu pembersih dan rangkaian besi,” pungkasnya.

Bendesa Adat Karangasem, IDG Nguah Surya Y. Anom, mengatakan, ogoh-ogoh adalah ekspresi seni yang dikaitkan dengan pecaruan di hari pangerupukan. Wujud ogoh-ogoh yang sangat seram merupakan wujud energi yang sangat besar dan liar, kemudian ditransformasi melalui “penyomian” menjadi energi besar yang bermanfaat untuk umat manusia dan alam.

Ketua Panitia Lomba Ogoh-ogoh, I Made Arnawa, menjelaskan, seluruh peserta bahan-bahan ogoh-ogohnya sudah menggunakan bahan alami sesuai anjuran pemerintah untuk kelestraian lingkungan, dan murni hasil karya STT.

“Rencana tahun depan lomba ogoh-ogoh jumlah peserta ditingkatkan, setiap STT/ banjar wajib ikutserta lomba sehingga pesertanya menjadi 35 buah ogoh-ogoh,” harapnya.

Sementara itu, sebelum dimulai parade ogoh-ogoh, Jumat siang menjelang sore hari digelar upacara Tawur Kasanga Tabuh Gentuh di Catus Pata Taman Budaya Candra Bhuwana Amlapura. Dipuput dua orang sulinggih siwa-Budha, Ida Pedanda Gede Ketut Sidemen dari Geria Gelumpang, Kelurahan Karangasem; dan Ida Pedanda Oka Shambawa dari Geria Alit Budakeling, Desa Budakeling, Kecamatan Bebandem, Karangasem. (dbc)

Share :

Baca Juga

Unik Bali

“Gugon Tuwon” Wuku Dungulan, Pahami Galungan Bersifat “Loka Dresta”

Dari Desa

Desa Kemenuh Siapkan Sanksi Tegas bagi Pembuangan Sampah Liar

Unik Bali

Bulan Bahasa Bali Tahun 2025 Dibuka dengan Fragmentari Sewaka Kurma Raja

Edukasi

Bercerita Pembangunan Taman Ayun, Prasi Sepanjang 4 Meter Diselesaikan 17 Orang

Dari Desa

Jaya Negara Mendem Pedagingan di Prajapati Pura Kahyangan Sumerta

Dari Desa

Penguatan Ketahanan Pangan, Kelurahan Padangsambian Tanam Cabai, Buah, dan Sayuran

Komunitas

Yayasan Padukuhan Sri Chandra Bhaerawa Gelar Pawintenan Massal di Pura Sakenan

Peristiwa

Empat Seniman Terima Penghargaan Dharma Kusuma dari Gubernur Bali