BULELENG – Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng melalui Kayoman Pedawa terus berkomitmen menjaga dan mengembalikan sumber air yang ada dengan aksi nyata menanam sebanyak 300 pohon. Kegiatan yang berkolaborasi dengan Universitas Iwate Jepang dan Undiksha Singaraja di Kayuan Mayung Desa Pedawa ini dilaksanakan pada Rabu 19 Maret 2025.
Penasehat Kayoman Pedawa Wayan Sadyana didampingi Ketua Kayoman Pedawa Putu Yuli Supriyandana mengatakan, aksi lingkungan ini sudah kali ketiga dilakukan oleh dua universitas ini bersama Kayoman Pedawa sejak 2023.”Kegiatan ini merupakan kegiatan kolaboratif lanjutan yang ke-3 antara Prodi Pendidikan Bahasa Jepang, Universitas Iwate dan Kayoman Pedawa yang didukung penuh oleh The Greenery Fund (Midori no Bokin) dan Asia Environmental Alliance bersama Undiksha Singaraja,” sebutnya.
Kedua universitas ini secara rutin setiap tahun mengadakan kolaborasi internasional untuk memberikan kesempatan para mahasiswa saling bertukar pikiran dan pandangan tentang fenomena lingkungan, pendidikan dan sosial lainnya. Selain itu, kegiatan ini melibatkan organisasi Bersih Bersih Bali, Babinsa, Babinkamtibmas, tokoh masyarakat setempat.
Dikatakan aksi ini merupakan kelanjutan dari kerja cerdas mahasiswa kedua universitas dalam menyikapi fenomena air yang ada di Desa Pedawa. Berdasarkan kajian dari Perkumpulan Wanayana Kayoman Pedawa atau Kayoman Pedawa bersama Profauna Foundation, menemukan bahwa setidaknya terdapat 85 titik sumber air di Desa Pedawa.
“Puluhan titik air ini hanya 10 persen sumber air yang mengalirkan air yang bagus pada saat musim kemarau. Sumber-sumber air di desa Pedawa mengalami penurunan debit air dan bahkan kering pada musim kemarau. Hal ini disebabkan oleh penebangan akibat alih fungsi lahan yang sangat masif untuk pembukaan lahan pertanian dan perkebunan. Oleh karena itu, Kayoman Pedawa berkomitmen untuk menjaga dan mengembalikan sumber-sumber air yang ada di Desa Pedawa,” tekannya.
Adapun 300 pohon yang ditanam antara lain dari jenis pohon aa, nangka, bunut, gintungan, beringin, aren, majagau, kayu tanah, kayu ketapang, kayu apuh, cempaka. Desa Pedawa merupakan salah satu desa tua (Desa Bali Aga) yang memiliki budaya unik dalam penggunaan air untuk sarana ritual adat. Setidaknya, menurut hasil kajian dari Sekolah Adat Manik Empul, terdapat 33 jenis air suci yang digunakan dalam ritual upacara adat yang dilaksanakan di Desa Pedawa.
Kayoman Pedawa sudah berkegiatan dalam pelestarian air sejak tahun 2016. Komunitas ini didirikan oleh I Wayan Sadyana, I Made Suisen, dan Putu Yuli Supriyandana pada tanggal 6 Desember 2016. Sejak saat ini, komunitas ini terus secara konsisten melakukan konservasi pada sumber-sumber air yang ada di Desa Pedawa.
Selain melalui aksi nyata berupa penanaman pohon, kegiatan penyadaran tentang lingkungan dan air juga dilakukan dengan metode edukasi bekerja sama dengan Pondok Literasi Sabih dan Sekolah Adat Manik Empul Desa Adat Pedawa. Kayoman juga membuat film-film pendek bertemakan lingkungan untuk melindungi satwa dan air. (dbc)















