Home / Ekbis

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 16:04 WIB

Dari Gerakan Sosial Jadi Entitas Bisnis Hijau, BRC Perkuat Ekosistem Daur Ulang di Bali

Bali Recycle Center (BRC) menggelar Exhibition Day & Networking Luncheon di Aston Hotel & Convention Center, Denpasar, Jumat (16/10/2026).

Bali Recycle Center (BRC) menggelar Exhibition Day & Networking Luncheon di Aston Hotel & Convention Center, Denpasar, Jumat (16/10/2026).

DENPASAR – Permasalahan sampah di Bali menjadi isu penting yang membutuhkan komitmen dan tata kelola terintegrasi dari hulu hingga hilir. Menjawab tantangan tersebut, PT Bali Recycle Center (BRC) terus memperkuat usaha pengelolaan sampah melalui pengembangan bisnis, perluasan jaringan kemitraan, serta peningkatan kapasitas sebagai bagian dari upaya mewujudkan Bali yang bersih dan lestari.

Direktur Utama PT BRC, Ni Wayan Riawati, mengungkapkan, langkah ini berawal dari gerakan sosial yang dijalankan Yayasan Bali Wastu Lestari bekerja sama dengan Unilever Indonesia sejak 2011. Melalui program bank sampah, yayasan tersebut mendorong pengelolaan sampah berbasis sumber dengan memberikan layanan sosialisasi, edukasi, pendampingan pemberdayaan masyarakat, pengumpulan sampah, hingga pemasaran material daur ulang.

Namun, gerakan sosial dinilai belum cukup untuk menjamin keberlanjutan usaha pengelolaan sampah. Diperlukan penguatan legalitas kelembagaan, pembangunan budaya 3R (reduce, reuse, recycle), dukungan regulasi dan pembiayaan, penerapan teknologi tepat guna, serta jaringan pemasaran yang berkelanjutan.

“Pada akhir 2024, PT Bali Recycle Center resmi dibentuk untuk memperkuat pengelolaan Bank Sampah Induk Bali Wastu Lestari,” ujar Ni Wayan Riawati di sela-sela Exhibition Day & Networking Luncheon BRC yang berlangsung di Aston Hotel & Convention Center, Denpasar, Jumat (16/10/2026).

Memasuki awal 2025, Bali Recycle Center mengikuti program akselerasi dan lolos seleksi dalam proyek Scaling Up Local Enterprise on Waste Management in Indonesia (SULE-WM). Program tersebut diinisiasi oleh Unilever Indonesia dan GIZ, berkolaborasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, serta didampingi Ecoxyztem.

Selama satu tahun pendampingan, BRC memperoleh dukungan mentor berpengalaman serta hibah untuk perluasan gudang dan pengadaan kendaraan. Dukungan tersebut mendorong peningkatan skala usaha dan pendapatan perusahaan hingga 200 persen, sekaligus memperluas jaringan pelanggan layanan pengangkutan sampah dari unit-unit bank sampah dan memperkuat kerja sama dengan mitra usaha yang lebih besar dan stabil.

Baca Juga :  Wajib Paham, Ini Cara Aman Beli POCO C65 di Toko Online yang Sering Dilupakan

Pada 2026, Bali Recycle Center juga mengembangkan lini usaha penyediaan sarana tempat sampah dan fasilitas pengolahan sampah organik. Produk tersebut dapat diakses oleh pelanggan pemerintah melalui e-katalog dan memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan usaha.

BRC juga resmi menjadi vendor Unilever Global dalam kegiatan pengumpulan sampah plastik. Saat ini, perusahaan tersebut bermitra dengan 30 mitra pengumpul yang terdiri atas bank sampah, tempat pengolahan sampah dengan prinsip 3R (TPS3R), serta pemasok bahan baku bagi pabrik daur ulang di sembilan kota dan kabupaten di Bali.

Dukungan Unilever dan tim proyek SULE-WM turut mendorong transformasi BRC sebagai pengusaha pengelolaan sampah lokal. Penguatan kapasitas usaha ini diharapkan mampu menciptakan lebih banyak peluang kerja ramah lingkungan melalui inovasi, peningkatan kompetensi, dan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Head of Sustainability Unilever Indonesia, Maya Tamimi, menyampaikan bahwa penyelesaian persoalan sampah membutuhkan penguatan sistem pengelolaan sekaligus peningkatan kapasitas para pelaku dalam rantai pasoknya. Upaya dalam mengatasi persoalan sampah tidak hanya membutuhkan peningkatan sistem pengelolaan sampah, tetapi juga penguatan para pelaku yang berada di dalam rantai pasoknya.

“Melalui program SULE-WM, kami berupaya mendukung pengusaha pengelolaan sampah lokal agar dapat meningkatkan kapasitas, memperkuat model bisnis, dan membangun jejaring yang dibutuhkan untuk berkembang secara berkelanjutan. Kami percaya bahwa rantai pasok pengelolaan sampah yang lebih kuat dan inklusif merupakan bagian penting dalam mendorong ekosistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan,” ujarnya.

Ni Wayan Riawati berharap transformasi tersebut dapat memperluas kontribusi BRC, terutama dalam penyediaan jasa pengangkutan dan pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. “Silakan hubungi kami jika Bapak dan Ibu membutuhkan layanan dari kami,” ujarnya.

Baca Juga :  Atasi Abrasi Pantai Pebuahan di Kabupaten Jembrana, Pemerintah Akan Bangun Senderan April 2024

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperluas dampak pengelolaan sampah. Melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan media, BRC berupaya membangun ekosistem pengelolaan sampah yang lebih kuat dan berkelanjutan di Pulau Dewata.

Dukungan pemerintah, termasuk Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Bali–Nusa Tenggara serta dinas lingkungan hidup di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung, turut membuka peluang kerja sama dengan pelaku usaha perhotelan, restoran, dan kafe.

Perwakilan Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Bali–Nusa Tenggara, Arum Elvandari, mengapresiasi langkah BRC dalam mendukung pengelolaan sampah di Bali. Ia berharap perusahaan tersebut terus berkembang dan memberikan dampak positif yang lebih luas bagi lingkungan.

“Kita tidak bisa bergerak sendiri dalam mengatasi persoalan sampah di Bali. Kami dari pemerintah sangat mendukung dan mengapresiasi apa yang dilakukan oleh BRC,” ungkapnya.

Dukungan serupa disampaikan Kepala UPTD Pengelolaan Sampah Kecamatan Denpasar Timur–Denpasar Selatan, Viktor Andika Putra. Menurutnya, pengelolaan sampah membutuhkan kolaborasi berbagai pihak serta keterbukaan terhadap masukan dan saran.

Sementara itu, Exhibition Day & Networking Luncheon yang digelar menjadi momentum untuk mempertemukan BRC dengan institusi yang telah bekerja sama maupun calon mitra baru. Pertemuan tersebut berfokus pada pemasaran hasil pengolahan sampah, pengembangan rantai pasok, kerja sama dengan sektor perhotelan, restoran, dan kafe (HORECA) serta industri lainnya, dukungan pemerintah, dan kolaborasi dengan komunitas maupun organisasi lingkungan.

Selama satu tahun mengikuti program SULE-WM, BRC mencatat telah memiliki 112 pelanggan dan tujuh off-taker. Perusahaan ini juga mengumpulkan sekitar 1.800 ton sampah plastik yang selanjutnya dimanfaatkan sebagai bahan baku daur ulang. Capaian tersebut menunjukkan pentingnya penguatan kapasitas pelaku usaha lokal dalam membangun rantai pasok daur ulang yang berkelanjutan. (dbc)

Share :

Baca Juga

Ekbis

Peringatan Harkop Ke-76 Dirangkaikan Pengukuhan Gensi Kota Denpasar

Ekbis

Strategi Perumda Tirta Hita Buleleng Antisipasi Kemarau Panjang

Ekbis

Presiden Jokowi Berharap Pasar Seni Sukawati Semakin Dikenal

Ekbis

Dekranasda Tingkatkan Keterampilan Perajin Ecoprint

Ekbis

LPG 3 Kg Langka, Pertamina Agar Tingkatkan Pengawasan Pendistribusian

Ekbis

POCO Sambut 12.12 dengan Menggelar Extreme Deals, Extreme Fun

Ekbis

Peringati Hari Kartini, 125 Bibit Cabai Didistribusikan

Ekbis

Data Pinhome: Rumah Rp600 Juta Banyak Dicari