JAKARTA – Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (Orbastra) BRIN, Herry Yogaswara, menegaskan bahwa bahasa ibu merupakan fondasi utama dalam membangun kemampuan kognitif dan intelektual anak di tengah arus globalisasi yang semakin kuat.
“Bahasa ibu bukan sekadar alat komunikasi atau romansa budaya, tetapi instrumen kognitif yang memungkinkan anak berkembang secara akademis,” ujar Herry. Hal itu ia sampaikan dalam webinar “Bahasa Ibu sebagai Pondasi Kognitif: Diskursus Kebijakan dan Tantangan Praktis di Era Global” yang diselenggarakan Pusat Riset Preservasi Bahasa dan Sastra (PR PBS) BRIN, Kamis (2/4/2026) di Jakarta.
Menurut Herry, mengacu pada konsep Common Underlying Proficiency (CUP), kemampuan kognitif yang terbentuk melalui bahasa ibu dapat ditransfer saat anak mempelajari bahasa kedua. Ia juga menyoroti tantangan di lapangan. Berdasarkan laporan UNESCO (2023), banyak anak mengalami buta huruf fungsional karena dipaksa belajar dengan bahasa yang tidak digunakan di rumah.
Di Indonesia, regulasi telah membuka ruang penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar di pendidikan dasar. Namun, implementasinya masih terkendala keterbatasan bahan ajar, minimnya guru kompeten, serta persepsi negatif terhadap bahasa daerah sebagai “bahasa kelas dua”.
Melalui forum webinar ini, Herry berharap dapat menghasilkan rekomendasi konkret. Seperti pengembangan bahan ajar multilingual, inovasi metode pengajaran untuk daerah tertinggal, serta masukan kebijakan kurikulum yang lebih inklusif terhadap keragaman linguistik.
Ia juga mengutip studi World Bank (2021) yang menyebut investasi pada bahasa ibu sebagai strategi pendidikan yang hemat biaya namun berdampak besar dalam jangka panjang.
Fondasi Kognitif Anak
Pandangan tersebut diperkuat oleh praktisi pendidikan multilingual, Luminda Belesima Tahapary. Dalam paparannya bertajuk “Bahasa Ibu sebagai Fondasi Kognitif: Diskursus Kebijakan dan Tantangan Praktis di Era Global”, ia menekankan pentingnya bahasa ibu sebagai fondasi kognitif anak.
Menurut Luminda, bahasa ibu adalah bahasa pertama yang diperoleh secara alami, digunakan di rumah dan lingkungan terdekat, serta menjadi dasar berpikir dan alat komunikasi sehari-hari.
“Bahasa ini juga menjadi fondasi awal bagi perkembangan pengetahuan, konsep baru, dan identitas budaya anak, yang mendukung kemampuan belajar lebih lanjut,” tambahnya.
Luminda menekankan bahwa penggunaan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar sangat efektif, terutama di wilayah terpencil. “Kesulitan belajar sering muncul bukan karena kemampuan anak, tetapi karena bahasa di sekolah berbeda dari bahasa yang mereka kuasai. Dengan bahasa ibu sebagai pengantar, anak-anak dapat membangun literasi dasar membaca, menulis, dan berhitung yang menjadi fondasi untuk pembelajaran akademik yang lebih kompleks,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan tahapan pemerolehan Bahasa. Anak-anak belajar bahasa pertama melalui mendengar, melihat, dan melakukan sebelum mulai membaca atau menulis formal. Pendekatan bertahap ini serupa diterapkan pada bahasa kedua. Mulai dari komunikasi dasar, kemudian fondasi akademik yang lebih tinggi (Cognitive Academic Language Proficiency) selama beberapa tahun.
“Hal ini memungkinkan anak menguasai bahasa baru tanpa kehilangan kemampuan bahasa ibu dan membangun kapasitas kognitif yang maksimal,” tekannya.
Luminda menegaskan bahwa penguatan bahasa ibu akan membantu anak memahami informasi secara lebih baik, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, serta mempersiapkan mereka untuk menguasai bahasa lain tanpa kehilangan identitas budaya. Pendekatan multilingual berbasis bahasa ibu, menurutnya, menjadi strategi penting dalam membentuk generasi yang tangguh dan siap menghadapi tantangan global. (rls)















