BULELENG – Ratusan pemuda-pemudi atau teruna-teruni di Kabupaten Buleleng sangat antusias mengikuti lomba berbasis tradisi dan budaya Bali yang diselenggarakan UPTD Gedong Kirtya, Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng. Ada empat kategori lomba yang digelar yaitu masatua Bali, macecimpedan, Baligrafi, dan membuat wayang.
Kadi Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Nyoman Wisandika, usai membuka lomba di Sasana Budaya pada Selasa (2/10/2023) mengatakan, lomba tersebut bertujuan untuk menguatkan, mendekatkan untuk melindungi dan melestarikan warisan budaya di Kabupaten Buleleng pada khususnya dan Bali pada umumnya.
“Lomba ini bertemakan keberlangsungan dan kebermanfaatan warisan budaya bagi kaum milenial, itulah sasarannya,” jelasnya.
Disinggung dari peserta kaum milenial, Wisandika menegaskan di tengah gempuran kemajuan teknologi saat ini pihaknya bersama seluruh stakeholder berkolaborasi untuk memperkuat tradisi dan kebudayaan Bali kepada generasi penerus khususnya para teruna-teruni yang nantinya sebagai pewaris dan melestarikan budaya Bali.
“Dengan gaya kaum muda sekarang kita terus dekatkan, pupuk rasa cinta akan budaya dan tradisi kita yang adiluhung. Kalau bukan kita yang melestarikan siapa lagi?” imbuhnya.
Pada lomba membuat wayang, para peserta diminta membuat wayang dengan tokoh Yudistira. Terkait hal ini, Wisandika menerangkan bahwa tokoh Yudistira melambangkan kebijaksanaan. Hal ini yang menjadi landasan sikap harapan bagi kaum milenial di era sekarang untuk dapat berpikir, berkata, dan berperilaku lebih bijaksana sesuai dengan tokoh pewayangan tersebut.
Salah seorang peserta lomba masatua Bali, I Gede Arya Waraspatika Nanda dari SDN 3 Tunjung, Kecamatan Kubutambahan, ditemui usai lomba mengatakan, motivasi dirinya ikut lomba agar dapat membanggakan orang tua dan sekolah dalam upaya melestarikan tradisi Bali khususnya masatua Bali.
“Sebelumnya saya pernah mengikuti lomba sebanyak 2 kali di desa saya. Kali ini saya ikut dengan membawa cerita Jayaprana dan Layon Sari. Walaupun nantinya belum beruntung yang penting saya bisa tampil maksimal,” ucapnya.
Siswa yang duduk di kelas 6 ini sangat didukung oleh orang tua dan para gurunya. Dalam mempersiapkan lomba setiap hari, dirinya latihan baik di sekolah maupun sepulang sekolah. “Saat lomba kali ini mungkin karena banyak yang menonton agak grogi jadinya dan berusaha segera selesai lombanya,” tandasnya. (dbc)















